Tampilkan postingan dengan label Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alkitab. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Maret 2011

Firman Tuhan sebagai Dasar Pertumbuhan Iman Remaja

Firman Tuhan sebagai Dasar Pertumbuhan Iman Remaja
Iman percaya adaalah tindakan yang terdiri dari empat unsur, yang pertama ialah mengakui bahwa apa yang difirmankan oleh Allah adalah benar dan sungguh dapat diandalkan. Yang kedua ialah menyerahkan diri kepada firman Tuhan dan Kristus sebagai dasar pengharapan yang kukuh. Yang ketiga ialah menerima janji Allah yang terdapat di dalam Alkitab. Yang keempat ialah menghayati kebenaran firman Tuhan dalam pengalaman. Oleh sebab itu iman adalah respon dan tindakan (Yak. 2:14-20).[1]
Iman adalah pengakuan, percaya, bersandar, menghormati, menaati, menyerahkan, mengasihi Allah dengan kesungguhan hati yaitu dengan segenap jiwa, akal budi, dan ketekunan. Iman memang bukan sesuatu yang diwarisi setiap remaja dari orang tuanya, sebagaimana ia mewarisi segi-segi kepribadian mereka, namun seorang remaja dapat dibimbing kepada iman melalui asuhan, teladan dan doa-doa orangtuanya. intisari iman Kristen ialah pemberitaan kabar sukacita yang menyatakan bahwa dalam Yesus Kristus, Allah telah memasuki eksistensi manusiawi, mencari dan menyelamatkan manusia. Inilah yang disebut dengan kerygma.[2]
Alkitab menjelaskan bahwa pengaruh pertama yang dialami Timotius adalah pengaruh asuhan orangtuanya dan terutama ibu dan neneknya yang mengajarnya Alkitab sejak ia kecil. Memang ada unsur intelektual dalam iman, namun intelektual bukanlah hal utama atau yang paling penting dalam iman. Iman berarti percaya kepada Kristus dengan sepenuh hati sebagai oknum yang telah mati untuk memberi kita keselamatan. Iman yang dimaksud ialah penyerahan diri yaitu penyerahan seluruh hidup kepada Sang Juruselamat.
Iman Kristen harus menjadi ciri setiap remaja, sehingga setiap remaja dapat berdiri teguh dalam iman (1 Kor. 16:13), tinggal di dalam iman (Kol. 1:23) dan “hidup” di dalam iman (2 Kor. 5:7). Oleh imanlah setiap remaja boleh masuk kepada Allah (Roma 5:2; Efesus 3:12). Iman tidaklah statis dan iman itu tumbuh (2 Kor. 10:15; 2 tes. 1:3). Sangat keliru jika seseorang menganggap iman sebagai hasil usaha manusia yang sebanding dengan tindakan Allah untuk keselamatan. Iman itu sendiri berasal dari Allah, sebab kepada setiap orang percaya Allah mengaruniakan suatu ukuran iman (Roma 12:3).[3]
Jika seorang remaja benar-benar percaya kepada Kristus, maka ia akan menerima firman-Nya sebagai kebenaran dan menerima kebenaran tentang Kristus dan hubungan-Nya dengan Bapa. Dan ia juga percaya kepada Bapa dan kepada penyataan yang dibuat dalam Kitab Suci. Semua itu begitu mendasar sehingga sungguh-sungguh bisa dikatakan bahwa ia percaya.


[1] Wongso, Dasar Iman Kepercayaan Kristen, 47.
[2] Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, Pen. P. Siahaan dan Stephen Suleeman, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009), xi.
[3] Morris, Teologi Perjanjian Baru, 112.

Studi Kata 2 Timotius 3:16


Studi Kata “Diilhamkan”
Kata “diilhamkan” berasal dari kata “ilham” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya ialah petunjuk Tuhan yang timbul di hati, pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati, bisikan hati, sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dan sebagainya).[1] Kata Yunani yang dipakai untuk kata “diilhamkan” ialah yeopneustov theopneustos” yang diterjemahkan dengan diilhamkan Allah. Secara harfiah berarti “dihembuskan” Allah. Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam penulis pada saat penulisan kitab suci tersebut. [2] Kata tersebut merupakan kata sifat yang berjenis nominatif feminim tunggal. Akar kata dari kata tersebut ialah θεός theos artinya Allah dan πνέω pneó artinya nafas atau dihembusi.[3] Dalam Perjanjian Baru kata tersebut hanya muncul satu kali atau hanya terdapat dalam 2 Timotius 3:16. Dalam bahasa  Inggris ditulis “inspired by God” sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “diilhamkan Allah.”
Kata “diilhamkan” mengandung pengertian bahwa Kitab Suci diberikan melalui ilham ilahi. Pengertian dan karya para penulis dipengaruhi secara ilahi. Roh Kudus memenuhi hati orang-orang itu dengan suatu pesan dan memimpin mereka untuk menulis pesan itu bagi dunia. Inilah arti ilham dalam ayat tersebut. Para penulis yang diilhami adalah orang-orang kudus, nabi-nabi, pemberita-pemberita injil dan pemimpin-pemimpin rohani yang hidup dekat dengan Allah dan memiliki komunikasi terus menerus dengan Dia dalam doa dan renungan, dan yang hati dan hidupnya ditahbiskan demikian, dilimpahi kuasa untuk menyampaikan Firman-Nya kepada manusia, kadang dalam satu bentuk tertentu, kadang dalam bentuk lainnya. Mereka adalah saluran-saluran terpilih dari komunikasi ilahi, yang menafsirkan maksud-maksud Allah dengan bahasa yang berwibawa, yang bisa dipahami oleh orang-orang yang dimaksudkan.
Kitab-kitab suci dalam Alkitab ditulis oleh ilham Allah dan Roh Kudus (II Tim. 3:16; Kis. 1:16; Ibr. 3:7; II Ptr. 1:21). Kristus menguatkan tulisan-tulisan itu dengan ajaran-ajaran dari situ dan mengajak orang melakukan ajaran-ajaran tersebut (Mat. .4:4; Mrk. 12:10; Yoh. 7:43; Luk. 24:27). Tulisan-tulisan itu disebut "firman" (Yak. 1:21-23), "firman Allah" (Luk. 11:28), "perkataan Kristus" (Kol. 3:16), "firman kebenaran" (1:18), "kitab suci" (Rm. 1:2), "Kitab Kebenaran" (Dan. 10:21), "gulungan kitab" (Mzm. 40:8), "Kitab Taurat" (Neh. 8:3), "Taurat TUHAN" (Mzm. 1:3), "pedang Roh" (Ef. 6:17), "perkataan-perkataan Allah" (Rm. 3:2, BIS).
Tulisan-tulisan itu berisi janji-janji Injil (Rm. 1:2), menyatakan peraturan-peraturan Allah (Ul. 4:5), ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum Allah, mencatat nubuat-nubuat ilahi dan kesaksian tentang Kristus (Rm. 1:2; Ul. 4:5, 14; II Ptr. 1:19, 21; Yoh. 5:39; I Kor. 15:3).
Tulisan-tulisan itu penuh petunjuk yang memadai, tepat dan mampu membuat orang menjadi bijaksana, membawa seseorang pada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (Luk. 16:29, 31; Ams. 6:23; II Tim. 3:15). Janji-janji atau firman itu murni dan benar (Mzm. 12:7; 119:160), sempurna (Mzm. 19:8), sangat berharga (Mzm. 19:11), hidup atau nyata dan kuat (Ibr. 4:12). Firman Tuhan dimaksudkan untuk membawa kelahiran baru (Yak. 1:18), menghidupkan (Mzm. 119:50, 93), memberi terang (Mzm. 119:130), menyegarkan jiwa (Mzm. 19:8), menguduskan (Yoh. 17:17; Ef. 5:26). Firman Tuhan menimbulkan iman (Yoh. 20:31), harapan (Mzm. 119:49; Rm. 15:4), menimbulkan ketaatan, memberi hikmat kepada orang tak berpengalaman (Ul. 17:19, 20), membersihkan hati dan mempertobatkan jiwa (Yoh. 15:3). Tulisan-tulisan itu harus menjadi pedoman atau standar pengajaran (I Ptr. 4:11), harus dipercayai (Yoh. 2:22), merupakan ajakan atau teguran (I Kor. 1:31), harus dibaca dan dikenal (II Tim. 3:15), harus dibacakan kepada orang banyak di hadapan umum (Ul. 17:19), harus diterima dengan lemah lembut sebagai Firman Allah dan ditaruh di dalam hati untuk ditaati (I Tes. 2:13; Yak. 1:21; Ul. 6:6).


Studi Kata “Mengajar”
Kata dasar dari kata “mengajar” adalah kata “ajar.” Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan kata “ajar” adalah petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).[4] Sedangkan yang dimaksud dengan kata “mengajar” ialah memberi pelajaran, melatih.[5] Kata benda Yunani yang dipakai ialah didaskalia didaskalia.” Kata benda tersebut berjenis akusatif feminim tunggal. Kata ini berasal dari kata διδάσκω yang artinya mengajar atau peringatan.[6] Kata ini muncul dua puluh satu kali dalam Perjanjian Baru yaitu : ajaran 10 kali, ajaran-ajaran 1 kali, ajaranku 1 kali, ajaranmu 1 kali, mengajar 4 kali, menurut ajaran 1 kali, pelajaran 1 kali, pengajaran 1 kali, pengajaranmu 1 kali.
Mengajar yang dimaksud dalam 2 Timotius 3:16 ialah mengajar tentang keselamatan yang dari Kristus. Dalam Perjanjian Baru dijelaskan gambaran tentang Yesus, tentang apa yang telah terjadi dalam hidup-Nya dan hal-hal yang telah diajarkan-Nya. Contoh ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru yang menjelaskan bagaimana Kristus mengajar yaitu dalam Matius 4:23 “Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” juga dalam Matius 7:29  “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.”
Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri berbicara kepada Musa supaya mereka mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ul. 6:6-9).
Umat Israel diperintahkan untuk mengajarkan firman Allah dengan rajin kepada anak-anak mereka. istilah “dengan rajin” dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja yang berarti “mempertajam.” Dalam contoh ini terkandung makna menembus secara dalam. Firman Tuhan tidak boleh diremehkan, melainkan harus menembus dan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan manusia. Alkitab merupakan disiplin ilmu yang multigenerasi dan intergenerasi. Hal ini lebih dari sekedar tradisi kuno umat Israel mula-mula.[7]


Studi Kata “Menyatakan Kesalahan”
Kata dasar dari kata “kesalahan” adalah kata “salah.” Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan kata “salah” adalah tidak benar, tidak betul, keliru, khilaf, menyimpang dari yang seharusnya, luput, tidak mengenai sasaran, gagal, cela, cacat, kekeliruan. [8] Sedangkan yang dimaksud dengan kata “kesalahan” ialah perihal salah, kekeliruan, kealpaan.[9] Kata dasar dari kata “menyatakan” adalah kata “nyata.” Arti kata “nyata” ialah terang (kelihatan, kedengaran, dsb), jelas sekali, kentara, benar-benar ada, ada buktinya, terbukti.[10] Kata “menyatakan” berarti menerangkan, menjadikan nyata, menjelaskan, menunjukkan, memperlihatkan, menandakan, mengatakan, mengemukakan (pikiran, isi hati), melahirkan (isi hati, perasaan, dsb.), mempermaklumkan, membuktikan. [11] Jadi yang dimaksud dengan kata “menyatakan kesalahan” ialah menjelaskan dan menunjukkan ketidakbenaran atau memperlihatkan atau membuktikan segala sesuatu yang menyimpang.  Kata Yunani yang dipakai dalam kata “menyatakan kesalahan” ialah elegcovelegchos” kata tersebut berbentuk kata benda berbentuk akusatif maskulin tunggal. Kata tersebut berasal dari kata λέγχω yang berarti teguran atau disiplin.[12] Kata tersebut muncul dua kali dalam Perjanjian Baru yaitu : “bukti” muncul satu kali dan “menyatakan kesalahan”  muncul satu kali.
Kesalahan yang dimaksud yaitu menyatakan dosa dan menolak ajaran sesat. Dosa mempunyai banyak segi. Paulus menggunakan macam-macam istilah untuk menjelaskan hal tersebut. Kata utama untuk dosa adalah hamartia “meleset dari sasaran” yang dipakai 64 kali oleh Paulus. Paulus sering memakai kata itu dalam bentuk tunggalnya. Dosa bukan hanya sekedar kejahatan yang dilakukan, melainkan suatu kekuatan yang membelnggu seseorang. Paulus memandang semua orang sebagai yang “terjual di bawah kuasa dosa (Rom 7:14). Sebagaimana seorang budak dijual kepada seorang majikan, demikianlah semua orang masuk dalam kuasa dosa. Dosa pun bersifat universal baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi (Rom. 3:23), dan pada hakikatnya semua orang harus dimurkai.[13]


Studi Kata “Memperbaiki Kelakuan”
Kata dasar dari kata “kelakuan” adalah kata “laku.” Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan kata “laku” adalah perbuatan, gerak-gerik, tindakan, cara menjalankan atau berbuat.[14] Sedangkan yang dimaksud dengan kata “kelakuan” ialah perbuatan, tingkah laku, perangai, perihal, keadaan.[15] Kata dasar dari kata “memperbaiki” adalah kata “baik.” Arti kata “baik” ialah elok, patut, teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb.), menguntungkan, berguna, manjur, tidak jahat (tentang kelakuan, budi pekerti, keturunan, dsb.), jujur, sembuh, pulih, selayaknya, sepatutnya.[16] Kata “memperbaiki” berarti membetulkan (kesalahan, kerusakan, dsb.), menjadikan lebih baik (bagus, rapi, dsb).[17] Jadi yang dimaksud dengan kata “memperbaiki kelakuan” ialah membetulkan tingkah laku dan perbuatan yang salah.
Kata Yunani yang dipakai dalam kata “memperbaiki kelakuan” ialah epanorywsiv atau epanorthosis yang berarti perbaikan dalam bidang kelakuan. Kata ini benda ini berbentuk akusatif  feminim tunggal. Kata tersebut berasal dari kata νορθόω atau anorthoó yang berarti membuat lurus atau memulihkan. Kata anorthoó sendir berasal dari kata depan νά yang berarti kembali, oleh, melalui dan ρθός yang artinya lurus atau tegak.[18] Kata tersebut hanya muncul satu kali dalam Perjanjian Baru, yaitu hanya terdapat dalam ayat ini.
Yang dimaksud dengan kata “memperbaiki kelakuan” ialah memperbaiki apa yang salah pada tingkah laku manusia dengan kebenaran yang terdapat dalam Kitab Suci. Semua teori, teologi dan etika harus diuji dengan Alkitab. Bila ternyata bertentangan dengan pengajaran Alkitab, semua itu harus ditolak. Semua pengajaran harus diuji dan harus sejalan dengan pengajaran Yesus Kristus seperti dinyatakan dalam kitab suci.


Studi Kata “Mendidik Orang Dalam Kebenaran”
Kata “kebenaran” berasal dari kata dasar “benar” di dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya ialah sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah, tidak berat sebelah, adil, dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya), tidak bohong, sah.[19] Kata kebenaran sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya, sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada, kelurusan hati, kejujuran.[20] Sedangkan arti kata mendidik ialah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.[21] Mendidik orang dalam kebenaran dapat diartikan dengan memelihara atau memuridkan seseorang dalam hal yang sungguh-sungguh benar adanya. Sumber kebenaran ialah Alkitab.
Kata Yunani yang dipakai dalam kata “mendidik orang dalam kebenaran” ialah paideia en dikaiosunh atau paideia en dikaiosune. Akar kata dari kata paideia adalah παῖς atau pais yang berarti anak. Kata paideia merupakan kata benda akusatif feminim tungal yang berarti disiplin atau didikan.[22] Kata serupa dalam Perjanjian Baru muncul enam kali yaitu : didikan 1 kali, didiklah 1 kali, ganjaran 3 kali dan mendidik 1 kali. Kata dikaiosune merupakan kata benda datif feminim tunggal yang berarti kebenaran atau pembenaran.[23] Kata serupa dalam Perjanjian Baru muncul Sembilan puluh dua kali yaitu : Kebenaran 1 kali, baik 1 kali, dengan adil 2 kali, dibenarkan 2 kali, dibenarkan Allah 1 kali, hidup keagamaanmu 1 kali, keadilan 7 kali, keadilan-Nya 2 kali, benar 59 kali, kebenaran Allah 2 kali, kebenaran-Nya 1 kali, kebenaranmu 1 kali, kebenarannya 1 kali, kehendak Allah 1 kali, kewajiban agamamu 1 kali, membenarkan 1 kali, pembenaran 1 kali, soal kebenaran 1 kali.
Yang dimaksud dengan mendidik orang dalam kebenaran ialah mendidik seseorang supaya ia berjalan di atas jalan yang benar sesuai kehendak Allah. Manfaat dari mempelajari Kitab Suci dapat mendidik orang dalam kebenaran sehingga orang tersebut diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. mempelajari kitab suci bukanlah untuk diri sendiri, bukan hanya untuk kebaikan hati sendiri. Pertobatan yang membuat orang hanya berpikir untuk dirinya sendiri bahwa ia telah diselamatkan, bukanlah pertobatan yang benar. Orang tersebut harus mempelajari Kitab Suci agar dirinya berguna bagi Allah dan sesama manusia. Tidak seorangpun diselamatkan, kecuali agar dia menjadi suluh untuk menyelamatkan sesamanya.


[1] Depdiknas, ilham” dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Selanjutnya disingkat KBBI), (Jakarta, Balai Pustaka, 1989), 370.
[2] Budiman, Surat-surat Pastoral I & II Timotius dan Titus,108.
[3] Haroul K. Moulton, “yeopneustov” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, Pen. Robert Leland dan Stanley Pouw, (Jogjakarta : Randa’s Family Press, 2009), 370.
[4] Depdiknas, ajar” dalam KBBI, 14.
[5] Depdiknas, mengajar” dalam KBBI, 15.
[6] Moulton, “didaskalia” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 90.
[7] Warren S. Benson dan Mark H. Senter III, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda 2, Pent. Henry Lantang, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1999), 312.
[8] Depdiknas, salah” dalam KBBI, 865.
[9] Depdiknas, kesalahan” dalam KBBI, 865.
[10] Depdiknas, nyata” dalam KBBI, 696.
[11] Depdiknas, menyatakan” dalam KBBI, 696.
[12] Moulton, “elegcov” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 120.
[13] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, Pent. Pidyarto O. Carm, (Malang : Gandum Mas, 2006), 74.
[14] Depdiknas, laku” dalam KBBI, 554.
[15] Depdiknas, kelakuan” dalam KBBI, 555.
[16] Depdiknas, baik” dalam KBBI, 78.
[17] Depdiknas, memperbaiki” dalam KBBI, 79.
[18] Moulton, “epanorywsiv” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 139.
[19] Depdiknas, benar” dalam KBBI, 114.
[20] Depdiknas, kebenaran” dalam KBBI, 114.
[21] Depdiknas, mendidik” dalam KBBI, 232.
[22] Moulton, “paideia” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 276.
[23] Moulton, “dikaiosunh” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 94.

Latar Belakang Timotius

Latar Belakang Timotius
Timotius  dalam bahasa Yunaninya ialah Τιμόθεος; Timótheos, artinya "memuliakan Tuhan"). Nama Timotius dalam bahasa Inggris adalah Timothy. Timotius dilahirkan dalam keluarga yang saleh. Lukas menceritakan bahwa Timotius adalah putra dari pernikahan campuran antara Yahudi dan Yunani. Ayahnya adalah seorang Yunani sedangkan ibunya adalah seorang Yahudi (Kis. 16:1). Ibunya, Eunike adalah wanita Yahudi yang percaya Kristus dan menjadi Kristen. Neneknya Lois telah lebih dahulu bertobat, sebab Paulus berbicara tentang iman dari tiga generasi (2 Tim. 1:5). Sang nenek, ibu dan anak bertobat berkat kedatangan Paulus membawa Injil ke Listra. Tapi sebelum mereka bertobat kepada Kristus, ibu dan nenek dari Timotius telah mengajar Perjanjian Lama, sehingga dari kecil ia telah mengenal kitab suci (2 Tim. 3:15). Timotius meninggal sekitar 80 Masehi. Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Timotius bepergian dengan Rasul Paulus, yang juga menjadi mentornya. Dia disebut sebagai penerima dari dua surat-surat Paulus. [1]
Setelah Paulus mengalami kekecewaan karena perpecahannya dengan Barnabas dan Markus (Kis. 15:39), Tuhan mempertemukan Timotius dengan Paulus di Listra (Kis. 16:1-3). Timotius muda dipercaya Paulus untuk ikut dalam pelayanan misinya yang kedua (Kis. 15:36-18:22). Melalui pelayanan inilah, Timotius bertumbuh menjadi murid dan anak rohani Paulus. Timotius adalah pembantu setia Paulus dalam mengajarkan Injil selama lima belas tahun sejak Timotius direkrut di kota kelahirannya di Listra. Ia telah mengikuti Paulus dalam hampir semua perjalanannya yang kedua dan ketiga. Ia telah diutus beberapa kali sebagai utusan dengan tugas-tugas istimewa, misalnya ke Tesalonika dan Korintus (1 Tes. 3:1; 1 Kor. 4:17). Ia menemani Paulus ke Yerusalem (Kis. 20:1-5) dan ia menyertai Paulus pada perjalanan laut menuju Roma yang penuh bahaya.  Timotius berada di Roma selama Paulus dipenjarakan pertama kalinya, sebab rasul Paulus menggabungkan nama Timotius dengan namanya sendiri waktu Paulus menulis surat-surat dari penjara kepada Filemon, orang-orang Filipi dan orang-orang Kolose (Fil. 1:1-2; 2:19-24; Kol 1:1).[2]
Timotius memiliki keprihatinan pada kesejahteraan gereja-gereja dan ia setia dalam melayani Injil bersama Paulus. Paulus menyebut Timotius sebagai anaknya yang kekasih dan yang setia dalam Tuhan, bukan saja karena kasihnya yang besar kepada Timotius sebagai teman yang telah berhasil dibimbingnya menjadi pengikut Kristus, tapi juga karena kepercayaannya pada Timotius sebagai teman sekerjanya (Rom. 16:21) dan saudara yang bekerja dengan Paulus untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus (1 Tes. 3:2). Paulus menyebut Timotius sebagai satu-satunya orang yang sehati dan sepikir dengan Paulus dan tidak mencari kepentingan Kristus. Paulus bahkan mengatakan “tak ada seorang padaku seperti dia” (Fil. 2:20-22).
Setelah pemenjaraannya yang pertama, Paulus meninggalkan Timotius di Efesus sebagai pemimpin gereja. Timotius diberi tanggung jawab yang luas, yaitu menghadapi orang-orang yang murtad untuk mengacau gereja setempat. Timotius juga bertanggung jawab dalam menata kebaktian gereja, memilih dan meneguhkan penatua-penatua, mengatur bantuan dan pelayanan kepada para janda, memberlakukan dan mengajarkan iman rasuli. Timotius pun menanggung beban yang lebih berat ketika ia tahu bahwa Paulus akan mati martir, maka tanggung jawab memelihara kelanjutan serta keutuhan pengajaran rasul sekarang menjadi tanggungannya.
Secara manusia, Timotius tidak sanggup untuk mengemban tugas-tugas kepemimpinan gereja yang banyak dan berat itu karena Timotius masih muda. Ada beberapa petunjuk yang menjelaskan bahwa Timotius adalah seorang yang masih muda. Paulus dalam suratnya yang pertama menekankan “jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda” (1 Tim 4:12). Dan dalam suratnya yang kedua, kira-kira dua tahun kemudian, ia memperingatkan Timotius “jauhilah nafsu orang muda” (2 Tim. 2:22).
Ketika Timotius dibawa kepada pertobatan oleh Paulus pada perjalanannya yang pertama pada tahun 44, Timotius berusia 15 tahun. Ia kemudian diikutsertakan sebagai pembantu Paulus pada perjalanan kedua (Kis. 16:1-3) pada tahun 52. Jadi ketika Paulus menulis surat 1 Timotius pada tahun 62, pada saat itu Timotius berusia 33 tahun. Pada umur tersebut, orang-orang Yunani menyebut ukuran usianya dengan istilah neos dan orang Romawi menyebutnya dengan istilah juvenis. Kata neos dan juvenis tidak mengandung konotasi kekanak-kanakan. Kata tersebut dipakai untuk orang yang sedang berada pada puncak kekuatannya dan untuk usia wajib militer.[3] Usia tersebut bagi seorang guru agama dan Pembina jemaat pada zaman itu dianggap muda, karena ia harus berhadapan dengan orang-orang yang lebih tua dari dia. Para penatua yang lebih tua umurnya harus ia beri instruksi dan bagi mereka tidak mudah untuk menerima instruksi dari padanya.[4]
Timotius sering jatuh sakit. Dalam suratnya yang pertama kepada dia, rasul Paulus menyinggung penyakit Timotius yang sering kambuh, meskipun tidak ditegaskan apa penyakit itu. Paulus menyarankan kepada Timotius untuk “menambahkan anggur sedikit” (1 Tim 5:23) demi menjaga kesehatan perutnya. Menurut pembawaannya, Timotius adalah seorang pemalu. Seandainya ia hidup di zaman sekarang, ia akan disebut seorang introvert. Kelihatannya ia segan menghadapi suatu tugas yang sukar, sehingga dalam suratnya kepada orang-orang Korintus, Paulus harus meratakan jalan bagi dia dan misinya, “jika Timotius datang kepadamu, usahakanlah supaya ia berada di tengah-tengah kamu tanpa takut,” dan janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah” (1 Kor. 16:10-11). Beberapa kali dalam surat yang kedua, Paulus mendorong Timotius supaya rela menderita dan jangan takut atau malu, sebab Allah tidak memberi roh ketakutan (2 Tim 1:7-8; 2:1 3; 3:12). Nasihat tersebut diperlukan oleh Timotius. Paulus tidak dapat melupakan air matanya waktu mereka berpisah (2 Tim 1:4).[5]
Timotius yang muda harus memimpin jemaat di sebuah kota besar seperti Efesus dengan berbagai permasalahannya. Di Efesus terdapat kuil besar tempat penyembahan kepada Dewi Diana, dewi seksual pelindung kaum wanita. Dapat dibayangkan dengan jemaat yang berlatar belakang kekafiran ini, berapa besar godaan moral dan penyimpangan agama yang dihadapi jemaat. Belum lagi ajaran-ajaran agama Yahudi yang masuk bercampur aduk dengan kepercayaan mistis seperti percaya pada dongeng-dongeng, silsilah-silsilah, pantangan makan makanan tertentu, dsb.[6] Sama seperti Musa dan Yeremia dan sekian banyak orang sebelum dan sesudah dia, Timotius mempunyai banyak kelemahan, tetapi Timotius terpanggil untuk mengemban tugas-tugas berat dalam gereja Allah. Sesuatu yang besar diletakkan di atas pundaknya.


[1] Ibid, 27.
[2] Stott, II Timotius, 17.
[3] Ibid, 18.
[4] Budiman, Surat-surat Pastoral I & II Timotius dan Titus, 41.
[5] Stott, II Timotius, 19.
[6] Barclay, Surat 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon, 15.

Latar Belakang Surat 2 Timotius

Latar Belakang Surat 2 Timotius
Surat satu dan dua Timotius juga surat kepada Titus merupakan kelompok surat yang mempunyai ciri-ciri khas yang sama, baik dalam gaya bahasa maupun dalam masalah-masalah yang dibahas. Kelompok surat ini dikenal dengan sebutan “Surat-surat Pastoral.” Istilah latin Pastor berarti gembala. Ketiga surat tersebut dinamakan Surat-surat Pastoral karena dalam surat tersebut berisi petunjuk-petunjuk mengenai bagaimana menggembalakan jemaat.[1]
Surat-surat Pastoral ditulis Paulus kepada anak-anak rohaninya, yang ia percayai dan utus untuk menggembalakan jemaat Tuhan di tempat masing-masing. Timotius melayani jemaat di Efesus, sedangkan Titus di pulau Kreta. Dalam surat-surat ini, Paulus menasihati, memberikan instruksi kepada mereka dalam menggembalakan, mengajar, dan mendisiplin jemaat masing-masing. Dalam surat yang pertama kepada Timotius, Paulus mengingatkan Timotius bahwa Injil yang berharga itu harus diberitakan, diajarkan, dipertahankan terhadap serangan atau penyelewengan dan menjaga agar Injil itu diteruskan kepada generasi-generasi yang akan datang secara tepat dan utuh.
Paulus menulis surat tersebut karena mengetahui bahwa Timotius pemalu serta menghadapi kesukaran, dan karena menyadari akan kemungkinan penganiayaan berat dari luar gereja dan adanya guru-guru palsu di dalam gereja, Paulus menasihatkan Timotius agar dia memelihara Injil, memberitakan Firman Allah, menanggung kesukaran dan melaksanakan tugas-tugasnya. Surat ini merupakan surat terakhir Paulus. Pada saat menulis surat ini, kaisar Nero sedang berusaha untuk menghentikan perkembangan kekristenan di Roma dengan penganiayaan yang bengis terhadap orang percaya. Surat ini ditulis oleh Paulus sekitar tahun 67 Masehi ketika ia berada di penjara. Ia menyebut dirinya “seorang hukuman karena Dia” (2 Tim. 1:8), dan ini adalah penghukuman yang kedua kalinya di Roma. Paulus disekap dalam ruang bawah tanah dengan keadaan terantai (2 Tim. 1:16), dibelenggu seperti penjahat (2 Tim. 2:9). Ia menderita karena kehidupan yang sepi, membosankan dan dingin dalam penjara (2 Tim. 4:9-13). Onesiforus menemukan penjara Paulus dengan susah payah (2 Tim.1:17) karena penjara tersebut tersembunyi dari umum.[2]
Paulus saat itu sedang diperiksa mengenai perkaranya dan ia sedang menunggu perkaranya diajukan ke pengadilan (2 Tim. 4:16-17). Dalam perkaranya itu, Paulus tidak berharap akan dibebaskan. Ia sudah siap untuk dihukum mati karena ia telah berjuang keras untuk pemberitaan Injil (2 Tim. 4:6-8). Sebelum Paulus meninggal, ia mengirim pesan yang kedua kepada Timotius. Ia merasa pelaksanaan hukuman matinya sudah dekat. Meskipun isinya mencerminkan komunikasi yang sangat akrab dan pribadi dengan temannya Timotius yang muda belia itu, namun surat itu merupakan surat wasiatnya yang terakhir kepada gereja.
John R. W. Stott dalam bukunya mengutip pernyataan Eusebius yang menyatakan bahwa :
Paulus dijatuhi hukuman mati dan kemudian dipenggal kepalanya (sebagaimana perlakuan yang seharusnya terhadap seorang warga Negara Roma) di jalan Ostia, kira-kira 5 km di luar kota. Paulus dan Petrus dibunuh pada saat yang sama. Meskipun Paulus dipenggal kepalanya tapi Petrus (atas permintaannya sendiri) disalibkan dengan kepala di bawah.[3]

Telah tiga puluh tahun, Paulus dengan setia memberitakan Injil, mendirikan gereja-gereja, membela kebenaran dan mengkonsolidasikan pekerjaannya. Ia telah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir, telah memelihara iman (2 Tim. 4:7).
Pada saat Paulus menulis surat kepada Timotius, Paulus sedang menghadapi ajaran sesat yang berkembang pada saat itu yaitu Gnostisisme. Pikiran dasar Gnostisisme ialah bahwa segala benda (materi) pada hakikatnya jahat dan hanya roh yang baik. Gnostisisme percaya bahwa materi bersifat abadi, sama halnya dengan Allah yang abadi. Mereka percaya bahwa ketika Allah menciptakan dunia ini, Ia harus menggunakan bahan (materi) yang pada hakikatnya jahat. Allah tidak menjadi pencipta langsung atas dunia ini. Untuk menyentuh materi yang bercacat tersebut, Allah harus mengutus keluar serangkaian emanasi, yang mereka sebut aeon. Tiap emanasi makin jauh dari-Nya, sampai akhirnya ada emanasi atau aeon yang demikian jauh sehingga dapat bersentuhan dengan materi dan menciptakan dunia. Gnostisisme secara harfiah memiliki dongeng dan silsilah yang tidak ada kesudahannya. Jika orang ingin mencapai Allah, ia harus mendaki jenjang emanasi tersebut. Untuk itu memerlukan pengetahuan yang khusus untuk melewati setiap jenjang. Biasanya hanya orang berpengetahuan tinggi atau berintelektutal tinggi yang dapat mencapai Allah.[4]
Dalam ajaran Gnostisisme mengajarkan bahwa tubuh itu jahat. dari ajaran mereka tersebut, ada dua konsekuensi yang berlawanan yang pertama yaitu bahwa tubuh harus direndahkan sehingga mengakibatkan asketisme yang keras. Segala kebutuhan tubuh sejauh mungkin ditiadakan termasuk nalurinya, terutama naluri seksual, sejauh mungkin dibinasakan. Yang kedua ialah, naluri-naluri dan segala nafsu boleh dipenuhi sebebas-bebasnya karena tubuh itu jahat, sehingga tidak menjadi soal apa yang akan dilakukan terhadap tubuh. Oleh sebab itu seorang Gnostik dapat menjadi seorang askestis atau orang yang tidak bermoral, Karena baginya moralitas sama sekali tak punya relevansi. Yang lebih jauh lagi, ajaran ini tidak percaya akan kebangkitan tubuh. Bagi mereka hanya ada pembinasaan tubuh.[5]


[1] Budiman, Surat-surat Pastoral I & II Timotius dan Titus (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2000), ix.
[2] John R. W. Stott, II Timotius, Pen. R. Soedarmo, (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih), 15.
[3] Stott, II Timotius, 17.
[4] William Barclay, Surat 1 & 2 Timotius, Titus, Filemon, Pent. Bambang Subandjo, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2008), 17.
[5] Ibid, 18.