Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Juni 2011

Dampak Televisi Bagi Perkembangan Anak


 

Pendahuluan
Tayangan televisi selalu menyita perhatian anak-anak. Terlalu banyak menonton TV bisa menghambat pertumbuhan otak anak. Para peneliti menyarankan bayi hingga umur 2 tahun sebaiknya tidak dibiarkan menonton TV, karena televisi hanya memberikan rangsangan bersifat satu arah, hingga tidak tercipta reaksi timbal balik.
Sedangkan orangtua di Indonesia cenderung membiarkan anaknya duduk berjam-jam di depan TV. Mungkin alasanya agar mereka tidak main ke mana-mana. Ini sangat berbahaya, karena dapat menyebabkan proses perusakan kepribadian. Yang berarti menyerahkan pertumbuhan mental dan kecerdasan mereka kepada TV.
            Pengaruh yang baik, boleh-boleh saja di pertontonkan, lain halnya jika adegan atau tontonan tersebut bersifat negatif atau merusak, misalnya dulu pernah ada pro kontra tentang acara "Smackdown", dan fakta pun juga telah ada korban anak-anak meninggal karena melakukan adegan serupa dengan acara tersebut dengan teman sekolahnya.


Survei
Pengaruh Media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih & intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi & mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.
Faktanya:
• Anak merupakan kelompok pemirsa yang paling rawan terhadap dampak negatif siaran TV.
• Data th 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun . Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun.
• Tidak semua acara TV aman untuk anak. Bahkan, Survei mencatat bahwa pada 2004 acara untuk anak yang aman hanya sekira 15% saja. Oleh karena itu harus betul-betul diseleksi.
• Saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.
Acara TV bisa dikelompokkan dalam 3 kategori: Aman, Hati-hati, dan Tidak Aman untuk anak.
• Acara yang ‘Aman’: tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi.
• Acara yang ‘Hati-hati’: isi acara mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.
• Acara yang “Tidak Aman”: isi acara banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut. Sebaiknya anak-anak tidak menonton acara ini.


Pengaruh Menonton TV berlebihan

a. Berpengaruh terhadap perkembangan otak
Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.
b. Mendorong anak menjadi konsumtif
Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif.
c. Berpengaruh terhadap Sikap
Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.
d. Mengurangi semangat belajar
Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.
e. Membentuk pola pikir sederhana
Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.
f. Mengurangi konsentrasi
Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.
g. Mengurangi kreativitas
Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.
h. Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)
Banyak anak biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.
i. Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga
Kebanyakan anak menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, sering menghabiskannya dengan mendiskusikan tontonan di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.
j. Matang secara seksual lebih cepat
Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, anak memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang dilihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar Media, sehingga sering mengabaikan tanggung jawab sosial, moral & etika.


Cara agar dapat mengurangi menonton TV
a. Biasakan membaca
Biasakan anak untuk membaca buku. Bila sempat, sisakan waktu setiap hari, kalau tidak, beberapa kali setiap minggu untuk membacakan cerita kepada anak atau biarkan sekali-kali anak yang membacakan cerita, bias juga membaca cerita-cerita dalam Alkitab. Jangan lupa untuk membahas kembali apa yang telah dibaca. Tanyakan kepada anak tentang ceritanya, bantu mereka menemukan kosakata baru dan ajak anak untuk membaca beragam macam bacaan. Buatlah membaca itu gampang dan menyenangkan bagi anak dengan cara membuat buku berada di sekitar mereka. Ajak mereka ke perpustakaan. Sediakan sebanyak mungkin buku yang pantas di sekitar rumah dan minta kerjasama keluarga untuk menjadikan buku sebagai hadiah ulang tahun, liburan atau Natal.
b. Bercocok tanam
Banyak hal yang bisa diajarkan oleh alam, dan yang tidak bisa didapatkan dari menonton TV. Dengan mengajak anak bercocok tanam, orang tua bisa mengajarkan kepada anak banyak hal. Mulai membuat taman bunga sendiri, atau bahkan 1 pot saja. Dengan ini anak bisa belajar makna tumbuh dan bertanggung jawab. Jadi setiap kali anak menyiram bunganya di pagi hari, ia akan ingat bahwa tanaman, seperti kita semua itu mulai dari benih, tumbuh, berkembang dan kelak layu dan mati. Dan selalu perlu air dan matahari.
c. Melihat awan
Mungkin terdengar aneh. Karena mungkin tidak dibiasakan menikmati langit, atau biasanya hanya terpaku dengan indahnya bintang-bintang di malam hari. Padahal awan itu hampir selalu ada, selalu bergerak dan kadang-kadang membentuk hal-hal yang unik, seperti kuda nil, atau pesawat terbang. Kita bisa mengajak anak untuk menggambarkan bentuk apa yang dia lihat di awan. Kadang mereka bisa melihat 1 awan tapi dengan 2 bentuk yang berbeda. Orang tua juga bisa mengajaknya membuat puisi tentang awan. Orang tua dapat mengajarkan anak, bahwa ada Tuhan yang menciptakan awan dan langit yang begitu indah,
d. Menulis surat
Kebiasaan memiliki sahabat pena sudah begitu jauh dari kehidupan anak-anak. Dengan teknologi yang kini sudah begitu canggih, anak lebih senang menggunakan telepon untuk bercerita. Tapi ternyata menulis surat melatih banyak hal. Selain mengenali prosedur pengiriman barang (amplop, perangko dan jasa besar pak pos), menulis surat juga melatih motorik dan membuat anak senang bila menerima balasan. Ajak anak menulis surat ke nenek kakek atau saudara yang tinggal jauh. Dan tunggu balasannya! Jika anak mulai mengenal teknologi internet, bisa saja sarana e-mail bisa digunakan untuk melatih kebiasaan menulis.
e. Mendengarkan radio atau membaca koran
Anak sekarang sudah jarang sekali mendengarkan radio, apalagi membaca koran. Padahal mungkin mereka bisa mendapatkan informasi yang tidak kalah banyaknya dibanding mendengarkan berita di TV. Radio bisa melatih anak untuk mendengarkan dengan baik dan koran bisa mengajak anak untuk menambah wawasannya tentang dunia.
f. Memasak bersama ibu
Masak-memasak bukan hanya pekerjaan perempuan, bila sesuai, anak lelaki pun tidak ada salahnya diajak memasak bersama. Suatu hari keahlian itu pasti berguna juga baginya. Ajak anak memasak makanan-makanan ringan yang unik dan mengasyikkan. Misalnya membuat puding semangka kuning atau es krim rasa pisang.
g. Berolahraga
Kadang kata olahraga terdengar berat, tapi setelah dilakukan biasanya menyenangkan. Ada contoh olahraga yang dapat kita lakukan :
- Jalan-jalan
Jalan-jalan itu mudah dan murah. Tidak perlu banyak mengeluarkan uang. Jalan-jalan ke rumah teman atau sekadar berkeliling lingkungan rumah saja untuk menyapa tetangga. Orang tua juga bisa mengajak anak berjalan-jalan ke taman kota dan membuat piknik atau sekadar bermain di sana. Jalan-jalan itu baik untuk tubuh karena bisa menurunkan tekanan darah dan resiko terkena penyakit jantung. Dan yang lebih menguntungkan, jalan-jalan juga bisa mengurangi berat badan. Jalan-jalan juga bisa menenangkan pikiran dan melepaskan stres. Karena dengan berjalan, otak melepaskan zat yang bisa meringankan tekanan pada otot serta mengurangi kecemasan. Jalan-jalan juga bagus untuk lingkungan. Kalau lebih sering berjalan dari pada menggunakan transportasi bermesin, dan bisa menghemat 7 milyar gallon bensin dan 9.5 juta ton asap pembuangan kendaraan bermotor pertahunnya.
- Berenang
Semua anak suka bermain air. Jadi ajak anak berenang. Selain sangat menyenangkan, berenang itu juga salah satu cara berolahraga. Kalau bosan untuk berenang di kolam renang sekitar, ajak anak untuk pergi ke pantai. Selain bermain dengan ombak, anak juga bisa diajak membuat istana yang indah dari pasir dan mengoleksi kerang-kerang yang cantik.
- Bersepeda
Kalau dilakukan sendiri, mungkin bisa membosankan. Tapi cobalah bersepeda pagi-pagi bersama seluruh keluarga. Selain murah dan menyehatkan, orang tua bisa mengajak anak untuk menghias sepedanya menjadi sepeda yang indah.
- Bermain
Hidup anak pada dasarnya adalah bermain. Dengan bermain, anak belajar banyak hal.
h. Kegiatan sosial
- Bakti sosial
Orang tua sering lupa mengajak anak untuk memperhatikan orang-orang di lingkungan sekitar yang tidak seberuntung mereka. Ajak anak untuk bersama-sama membersihkan rumah dan lemari pakaian dari barang-barang yang tidak lagi digunakan tapi masih bagus dan layak pakai untuk disumbangkan ke panti-panti asuhan di sekitar rumah.
- Buat lomba antar RT
Ini selalu berhasil bila 17 Agustusan tiba. Orang tua tidak perlu menunggu momen itu. Rancang rencana perRT/RW untuk membuat acara massal anak-anak yang murah meriah setiap minggunya, jadi anak tidak terpukau di depan TV.
i. Rapikan rumah dan halaman
Biasanya yang ini adalah tugas pembantu rumah tangga. Kali ini, ajak anak untuk memerhatikan tempat tinggalnya sendiri. Karena pembantu tidak selalu ada untuk melayani. Ingatkan anak bahwa pembantu disebut demikian karena tugasnya memang ’membantu’ hal-hal yang kita tidak bisa dikerjakan. Bukan sebaliknya. Dengan demikian anak akan belajar untuk bertanggung jawab dan lebih menghargai pembantu. Lagipula, tinggal di lingkungan yang rapi dan bersih itu sehat dan menyenangkan.
j. Ambil les
Pelajaran di sekolah hanya melatih otak kiri. Jangan lupa untuk melatih otak kanannya. Ambil les yang menarik dan sesuai dengan bakat anak. Mulai dari les musik dengan piano, gitar, biola atau drumnya, atau les menari mulai dari tarian daerah, tarian modern dan ballet, atau les-les lainnya. Tapi ingat, jangan sampai les-les ini menambah beban belajar yang sudah menumpuk di sekolah. Pastikan anak mendapatkan waktu yang cukup untuk istirahat juga.
k. Bercengkrama dengan keluarga
Penelitian mengatakan bahwa 54% anak berusia 4-6 mengaku lebih senang menonton TV daripada bermain dengan ayahnya. Para orangtua juga mengaku bahwa mereka hanya menghabiskan sekitar 40 menit perhari untuk melakukan percakapan yang berarti dengan anaknya. Kedekatan dengan keluarga tidak bisa dibeli. Jangan biarkan televisi mencuri lagi waktu  untuk keluarga yang memang sudah tinggal sedikit sekali karena terpotong aktivitas sehari-hari.

l. Belajar
Sebetulnya apapun yang kita lakukan merupakan pembelajaran. Jadi belajar itu bukan hanya lewat buku. Belajar hal-hal baru yang belum kita ketahui. Belajar naik motor atau membuat sarang burung dari kayu. Belajar mengantri, belajar main basket atau belajar untuk sehari saja tidak nonton TV.
m. Mengerjakan keterampilan tangan
Banyak buku sekarang yang mengajarkan membuat keterampilan tangan, sehingga bisa melakukannya secara otodidak. Keterampilan tangan bisa dalam bentuk bermacam ragam, mulai dari meyulam, origami sampai membuat bunga dari sabun mandi.
n. Piknik ke kebun binatang atau musium
Mengunjungi kebun binatang selalu menyenangkan. Karena bisa melihat beragam binatang yang tidak biasa dilihat sehari-hari. Anak-anak biasanya menyukainya. Bila berani, ada waktu, dan transportasi, bisa juga mengunjungi taman safari dan bersentuhan dengan binatang-binatang itu secara langsung. Selain itu, musium juga menarik untuk dikunjungi. Dari musium, anak bisa banyak belajar tentang sejarah dan melihat langsung artifak-artifak menarik tentangnya.


Pengaruh Media Terhadap Kognisi Anak

Kognisi adalah semua proses yang terjadi di pikiran kita yaitu, melihat, mengamati, mengingat, mempersepsikan sesuatu, membayangkan sesuatu, berfikir, menduga, menilai, mempertimbangkan dan memperkirakan.
Media mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan kognisi anak. Media memberikan informasi dan pengetahuan yang pada akhirnya dapat membentuk persepsi. Dan penelitian menunjukan bahwa persepsi mempengaruhi sikap (attitude) dan perilaku seorang anak.
Sikap
Baron (1979); Fishbein and Azjen 1975 (dalam Baron, 1979); Kiesler and Munson 1975 (dalam Baron, 1979) mendefinisikan sikap sebagai kesatuan perasaan (feelings), keyakinan (beliefs), dan kecenderungan berperilaku (behavior tendencies) terhadap orang lain, kelompok, paham, dan objek-objek yang relatif menetap.
Ada tiga komponen sikap yaitu (1) afektif (affective), yang didalamnya termasuk perasaan suka tidak suka terhadap suatu objek atau orang; (2) kognitif, termasuk keyakinan tentang objek atau orang tersebut ; dan (3) perilaku, yaitu kecenderungan untuk bereaksi tertentu terhadap objek atau orang tersebut.
Sikap merupakan kajian yang sangat penting karena sikap berperan sangat penting dalam setiap aspek dalam kehidupan sosial. Pertama, sikap pada dasarnya mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam hubungan anak dengan orang lain. Sebagai contoh sikap yang positif terhadap seseorang membuat anak senang bertemu dengan orang itu, bahkan melakukan sesuatu untuk dia, mengimitasi perilakunya, dll. Sementara sikap yang negatif membuat anak cenderung menolak, menghindari, bahkan mungkin berperilaku kasar terhadap orang tersebut. Kedua, sikap mempengaruhi banyak keputusan-keputusan penting anak. Pilihan seorang anak dipengaruhi sikapnya terhadap orang dan objek-objek tersebut.


Pembentukan Sikap anak
Menurut Baron (1979), ada tiga proses yang sangat sederhana tetapi mempunyai efek yang sangat kuat terhadap pembentukan sikap. Yaitu classical conditioning, instrumental conditioning dan observational learning. Pada tulisan ini hanya menekankan pada classical conditioning, karena menurut proses inilah yang sedang terjadi saat ini.
Classical conditioning yaitu proses dimana beberapa stimulus yang bersifat netral, yaitu tidak mempunyai efek untuk memicu repon positif ataupun negatif, secara bertahap mempunyai efek itu (memicu respon positif ataupun negatif), setelah dilakukan pemasangan/asosiasi dengan stimulus lain yang memang pada dasarnya mempunyai efek memicu respon.
Sebuah experimen yang dilakukan oleh Staats and Staats (1958) membuktikan efek classical conditioning tersebut. Mereka memasangkan/mengasosiasikan nama negara Belanda dengan kata-kata positif dan memasangkan nama negara Swedia dengan kata-kata yang negatif. Caranya yaitu setiap kata nama negara Belanda ditampilkan experimenter mengucapkan kata-kata yang positif seperti hadiah, senang, bersih, dll. Dan kebalikannya ketika nama negara swedia ditampilkan di monitor, kata-kata yang diucapkan seperti : jelek, kotor, pahit, kegagalan, dsb. Kemudian setelah beberapa menit experimenter meminta para subjek penelitian untuk memberikan impresi mereka tentang kedua negara tersebut, dan ternyata Belanda mendapat rating yang lebih positif dibanding Swedia. Perlu digaris bawahi bahwa pemasangan tersebut hanya dilakukan dalam beberapa menit dan sudah memberikan dampak kepada subjek penelitan.
Atkinson & Shiffrin (1971) mengatakan bahwa semua rangsangan stimulus baik itu objek visual, auditif maupun konatif diterima oleh organ-organ indera (sensory memory) dan diteruskan ke working memory atau kadang disebut juga Short Term Memory (STM) akhirnya berlabuh di Long Term Memory (LTM). Stimulus diterima oleh anak hanya beberapa detik, dan jika seorang anak memberikan perhatian pada stimulus, maka stimulus itu akan memasuki STM/WM yang mampu menyimpan memori sampai dengan sekitar 20 detik, jika ada perhatian, usaha ataupun proses pada tahapan ini, maka stimulus itupun akan tersimpan di LTM secara permanen. Tanpa perhatian dan proses yang lebih kompleks pada setiap proses, akan mengakibatkan lupa.
Sampai dengan mereka remaja, kebanyakan anak-anak mempunyai sikap yang sama dengan orang tua mereka. Mereka setuju dengan orang tua mereka atas semua isu. Anak-anak mengadopsi keyakinan dan sikap suka tidak suka terhadap sesuatu, baik itu mengenai makanan, pakaian bahkan pilihan akan partai. Bahkan Baron (1979) mengatakan bahwa anak-anak seringkali merupakan foto kopi orang tua mereka. Dan anak-anak cenderung mengikuti sikap orang tuanya secara buta, tanpa dasar kognitif yang rasional. Yang membedakan dampak media antara bagi orang dewasa dengan anak-anak adalah :
Pertama anak-anak masih mempunyai keterbatasan pengetahuan dan kemampuan untuk menganalisa kejadian, Mereka akan menerima dampak berita itu tanpa banyak perlawanan.
Kedua, karena usia yang masih muda anak-anak akan mengalami proses ini secara lebih lama, yang akan memberikan efek yang lebih mendalam.
Sebagai lingkungan terdekat, keluarga dapat menjaga anak dari pengaruh negatif tersebut. Kemudian otoritas formal lain selain orang tua seperti guru, media, juga bisa mulai menyajikan tontonan yang seimbang, dan pemerintah sebaiknya mendukung dengan peraturan-peraturan yang membuat aturan main yang jelas sehingga asas keseimbangan tetap dijaga.


Penutup
Dengan banyaknya bukti betapa TV bisa memberikan dampak buruk, banyak keluarga sekarang membuat rumah mereka bebas-TV. Sangat penting untuk anak mempunyai kesempatan mempelajari dan mengalami langsung pengalaman hidup sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk sukses di masa yang akan datang. Kalau menurut Anda hidup tanpa TV itu masih terlalu sulit, maka perlahan batasi dan awasi dengan saksama tontonan anak-anak sepanjang tahun.

Rabu, 16 Maret 2011

Tokoh Penting dunia psikologi

Plato (429-347 BC)
Lahir di Athena tgl. 29 Mei 429 BC. Ia adalah murid dari Sokrates
Plato menulis sebuah buku yang berhubungan dengan Psikologi yang berjudul ‘Phaedo’ yaitu tentang cinta
Ajaran Plato yang terkanal adalah ‘idea’
Plato menyebut jiwa sebagai ‘immaterial’ karena sebelum masuk ke dalam tubuh, jiwa sudah ada di alam para sensoris.
Jiwa menempati dua dunia yaitu : dunia sensoris (penginderaan) dan dunia idea (yang sifat aslinya adalah berpikir)
Menurut Plato, manusia terdiri atas jiwa dan badan (dualism) badan adalah penjara jiwa.

Aristoteles (384-322 BC)
Ia adalah murid Plato. Lahir di Stagirus/Stegira, Chelcidice
Karya Aristoteles dalam bidang Psikologi ialah
‘De Anima’ yaitu tentang sifat-sifat dasar jiwa.
Ia menyampaikan macam-macam tingkah laku manusia dan adanya perbedaan tingkah laku pada organisme-organisme yang berbeda-beda. Tingkah laku organisme memperlihatkan tingkatan seperti tumbuhan : memperlihatkan tingkah laku pada taraf vegetatif (bernafas, makan, tumbuh), hewan : selain tingkah laku vegetatif, juga sensitif (merasakan melalui panca indera), manusia : bertingkah laku vegetatif, sensitif dan rasional. Manusia menggunakan rasio atau pikiran.
‘Parra Naturalia’ tentang catatan-catatan menganai sensasi, persepsi, memori, mimpi
Aristoteles adalah orang pertama yang secara ekslisit menyatakan bahwa manusia adalah binatang yang berakal budi.
Aristoteles menamakan manusia sebagai mahluk karena kodratnya (phusei) hidup dalam masyarakat (politikom zoon).

Rene Descartes (1596-1650)
Ia adalah filsuf Perancis yang meletakkan dasar aliran Rasionalisme
Descartes melihat pengetahuan yang sebenarnya hanya dapat dicapai melalui “piker” dan bukan berdasarkan pengalaman atau bertumpu pada kemampuan “panca indera”
Ia memperkenalkan semboyan cogito ergo sum (aku berpkir maka aku ada). Hal ini membuatnya dikenal sebagai bapak rasionalisme
Ia memandang Psikologi sebagai ilmu pengetahuan tentang gejala-gejala pemikiran atau gejala-gejala kesadaran manusia. Ia menyatakan bahwa manusia memiliki 2 macam zat yang secara hakiki berbeda, yaitu :
Recognitas : zat yang bebas tidak terikat oleh hukum-hukum alam serta bersifat rohani.
Res extensa : yaitu zat yang bersifat materi yang tidak bebas dan dikuasai oleh hukum alam.
Ia melihat tingkah laku manusia dalam 2 bagian :
Tingkah laku rasional : yang berhubungan dengan jiwa yang disebutnya sebagai unextended substance
Tingkah laku mekanis : yang berhubungan erat dengan badan yang disebutnya sebagai extended substance
Ia melihat “ide” dalam penjabaran 3 jenis ide :
Innate ideas : ide-ide bawaan yang datang dari struktur aktifitas atau potensi. Misalnya konsep Tuhan, jiwa, dsb.
Factitious ideas : ide-ide buatan, yang dibangun oleh pikiran untuk memahami sesuatu. Misalnya seorang ilmuwan yang hendak mencoba untuk membangun suatu teori.
Advebititious ideas : ide-ide yang tidak sengaja, yang datang sebagai rangsangan dari dunia eksternal, misalnya bunyi not music, panasnya api, sinar bulan, dsb.

John Locke (1632-1704)

Ia adalah filsuf Inggris yang lahir di Somerstetshire, Bristol.
Ia dikenal melalui konsep pikirnya tentang : Tabula rasa, tidak ada ide bawaan, sensasi dan refleksi, kualitas primer dan sekunder, materi yang nyata, dll.
Dalam konsep tabula rasa, ia menyatakan bahwa semua pengetahuan, tanggapan dan persaan jiwa manusia diperoleh karena pengalaman melalui alat-alat inderanya.
Pada waktu manusia dilahirkan, jiwanya kosong bagaikan sehelai kertas putih yang tidak tertulisi. Kertas kosong tersebut akan tertuli oleh pengalaman-pengalaman sedari kecil melalui alat pancainderanya. Semua pergolakan jiwanya akan tersusun oleh pengalamannya.

Gottfried Wilhelm von Leibniz (1646-1715)
Ia adalah seorang filsuf, sejarawan, matematikawan dan fisikawan. Ia dianggap sebagai seorang yang mempelopori studi Psikologi di Jerman.
Ia dikenal dengan psychophysical parallelism, yaitu bahwa hubungan antara badan dan jiwa bersifat pararel.
Menurutnya badan dan jiwa berjalan sendiri-sendiri, namun keduanya harus tunduk pada hukum-hukum (hal ini berbeda dengan pandangan Descartes yang menyatakan bahwa badan dan jiwa merupakan hubungan sebab-akibat atau interaksionisme.

George Berkeley (1685-1753)

Ia dikenal sebagai bapak idealisme modern. Ia juga dijuluki sebagai immaterialis dan idealis.
Pada tahun 1734 Berkeley menjadi uskup Cloyme.
Ia memberikan dalil-dalilnya sebagai berikut :
Dalil pertama : semua pengetahuan manusia berdasarkan dan berasal dari indera, jadi indera adaah prinsip pokok pengetahuan.
Dalil kedua : mempercayai adanya sesuatu di luar jiwa, konsepsi kita bertumpu pada fakta bahwa kita melihat dan merabanya.
Dalil ketiga : jika kognisi dan pengetahuan manusia mempunyai kemampuan mengungkapkan secara esensial dari apa yang ada di balik kognisi dan pengetahuan tersebut, maka setiap pengetahuan dan kognisi itu benar.
Dalil keempat : jika pengetahuan dan kognisi salah maka pengungkapannya juga pasti salah.

David Hume (1711-1776)
Ia filsuf kelahiran Edinburgh
Ia berkata “be a philosopher, but amindst all yous philosophies, be still a man” jafilah seorang filsuf namun dalam berfilsafat, anda harus tetap jadi seorang manusia.
Salah satu unsur psikologi Hume adalah unsur pengalaman seseorang yang berkaitan dengan :
Rasa/impression
ingatan/ideas.
Baginya pengalaman terdiri atas kesan dan ide. Pa prinsip-prinsip yang akan memandu kita dalam mengasosiasikan ide-ide, yaitu :
Persamaan/resemblance
Penghampiran/contiguity
Sebab akibat

John Stuart Mill (1806-1873)

Ia lhir di London dan menjadi seorang filsuf, ekonom dan moralis.
Ia dipengaruhi oleh Benthamisme, yaitu suatu ajaran yang dipelopori oleh Jeremy Bentham.
Paham Benthamisme adalah suatu ajaran yang mengajarkan bahwa setiap manusia menurut kodratnya berusaha untuk mengejar kesenangan/pleasure dan menghukum rasa sakit/pain

Sigmund Freud (1856-1939)

Lahir tgl. 6 Mei 1856 di Freiberg, Moravia.
Dasar pemikirannya yang terkenla adalah “sebagian besar perilaku manusia berasal dari proses yang tidak disadarinya”(unconscious)
Menurutnya yang dimaksud proses tidak sadar adalah :
Pemikiran
Rasa takut
Keinginan-keinginan yang tidak disadari seseorang, yang memiliki pengaruh pada perilakunya, terutama pengaruh negative berupa hasrat yang menganggu keseimbangan kepribadiannya.
Secara psikologis, gangguan atau kekacauan jiwa pada akhirnya melahirkan tindakan Devian/menyimpang
Teori Psikologinya yang terkenal ialah :
Id
Ego
Superego

Carl Gustav Jung (1875-1962)
Ia adalah Psikolog yang berasal dari Swiss, merupakan seorang pengagum Sigmund Freud, namun tidak sepenuhnya memegenag teori Freud.
Ia sempat bekerja di Burghoeltzli Mental Hospital di bawah bimbingan Eugenen Bleuler, yaitu seorang pakar dan penemu istilah Skizofrenia
Ia membagi jiwa dalam 3 bagian :
Ego : didefinisikan sebagai alam sadar.
Alam bawah sadar personal : mencakup segala sesuatu yang tidak disadari secara langsung, tapi bisa diusahakan untuk disadari.
Alam bawah sadar kolektif : warisan psikis yaitu tumpukan pengalaman, semacam pengetahuan bersama yang kita miliki sejak lahir.
Salah satu contoh pengalaman alam bawah sadar kolektif adalah de ja vu (perasaan bahwa anda pernah ada di tempat anda sekarang sebelumnya, namun tidak ingat kapan).

Alfred Adler (1870-1937)
Ia adalah keturunan Yahudi yang diangkat oleh Sigmund Freud sebagai presiden Viennese Analytic Society.
Teorinya dikenal sebagai berikut :
“Nafsu atau daya motivasi”, yang kemudian dikenal sebagai “dorongan menuju kesempurnaan” inilah hasrat setiap individu, yaitu untuk memenuhi segala keinginan dan potensi yang dalam diri sehingga mendorong kita untuk semakin dekat dengan apa yang diidealkan.
Sebelum menggunakan istilah “dorongan kesempurnaan” Adler telah lebih dahulu memperkenalkan istilah “keinginan merusak” yaitu suatu reaksi yang terjadi dalam diri kita ketika keinginan-keinginan lain tidak terpenuhi.
Karena kata “merusak” condong kea rah yang negatif, maka munculah istilah “dorongan untuk menegaskan diri”

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)
Ia dikenal dengan “gerak reflex” yaitu pengkondisian Pavlovian/klasikal, membentuk berbagai gerak reflex
Unconditioned stimulus : yaitu stimulus yang belum menjadi kebiasaan.
Unconditioned response : respon yang belum menjadi kebiasaan.
Ia membuktikan teorinya tersebut dengan kegiatan eksperimen pada anjing.

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)
Lahir tgl. 20 Maret 1904 di Pennsylvania, Amerika serikat.
Ia dikenang sebagai seorang psikolog terkenal setelah Sigmund Freud.
Hal penting dalam pemikirannya dalam dunia Psikologi ialah Operant Conditioning/cara kerja yang menentukan. Merupakan system yang ditawarkannya.
Menurutnya, tiap mahluk hidup pasti selalu berada dalam proses “melakukan sesuatu” terhadap lingkungannya.

Pengantar Psikologi

Arti kata psikologi
Kata “Psikologi” berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani “psyche” dan “logos”
Kata “psyche” berarti ‘roh,’ ‘jiwa’ atau ‘daya hidup’
Kata “logos” berarti ‘ilmu’
Jadi Psikologi dipahami sebagai ilmu jiwa

Hubungan psikologi dengan ilmu lainnya
Dengan Sosiologi : karena interaksi sosialnya
Dengan Teologi : karena keyakinan akan kekuatan yang ada dalam diri seseorang
Dengan Kedokteran : karena beberapa bidang berkaitan dengan kejiwaan / psikoterapi
Dengan Filsafat : karena beberapa pendapatnya bersifat filosofis

Apakah Psikologi termasuk ke dalam ilmu pengetahuan?
syarat empiris suatu ilmu pengetahuan adalah :
Dapat diamati
Dapat dicatat
Dapat diukur
Psikologi harus memenuhi suatu kriteria sebagaimana layaknya sebuah ilmu pengetahuan
Hal yang abstrak dan tidak memenuhi persyaratan suatu ilmu pengetahuan tidak dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan
Jika berpegang pada pengertian awal tentang psikologi, maka dapatkah jiwa dipelajari secara empiris?
Itulah sebabnya untuk dapat memenuhi kriteria empiris sebagai sebuah ilmu pengetahuan, maka psikologi lebih menekankan pada upaya untuk mempelajari “perilaku”
Perilaku dapat dipelajari, karenanya memenuhi syarat empiris.
Karena untuk memenuhi persyaratan kajian empiris, sebagaimana seharusnya sebuah ilmu pengetahuan, maka psikologi lebih banyak menekankan pada upaya untuk mempelajari “perilaku” seseorang.
J. B. Watson (1878-1958) melihat Psikologi sebagai “ilmu yang mempelajari perilaku”

Perkembangan Ilmu Psikologi


Zaman Yunani kuno
Para filsuf Yunani telah mengenal “filsafat mental”
Sokrates (469-399 BC)
Plato (429-347 BC)
Aristoteles (384-322 BC)
Abad pertengahan
Rene Descartes (1596-1650) memandang bahwa manusia mempunyai 2 unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu : jiwa dan raga
Kedua unsur ini saling memberi pengaruh, terutama pada ‘kelenjar pinealis’ yangterdapat di dalam otak manusia.
Abad 19
Psikologi eksperimental : Banyak eksperimen yang dilakukan manusia pada suatu kondisi tertentu (eksperimen dalam bidang fisika, kimia, fisiologis)
Gustav Theodore Fechner (1801-1887) dan Ernest Heinrich Weber (1795-1887) : eksperimen sensasi (pengalaman indrawi) yang menghasilkan hukum penginderaan rangsangan yang dikenal sebagai hukum Weber-Fechner
Wilhem Wundt (1832-1920) : Proses kesadaran. Psikologi sebagai ilmu yang mempelajari pengalaman sadar seseorang (The science of conscious experience)
Wundt mencoba memahai perilaku manusia dengan mengembangkan pendekatan eksperimental terhadap ‘introspeksi’ atau ‘observasi diri’ dimana seseorang mengalami suatu peristiwa dan kemudian mencoba untuk menggambarkan ulang peristiwa yang baru saja dialaminya.

Senin, 07 Maret 2011

TINJAUAN UMUM PERKEMBANGAN REMAJA


Dalam artikel ini menjelaskan tentang teori-teori pemahaman mengenai remaja dan Pendidikan Agama Kristen untuk remaja. Dimulai dari ciri-ciri umum masa remaja dilihat dari perkembangan fisik, intelektual, psikologis dan sosialnya, termasuk mengenai kenakalan remaja. Dalam pasal ini juga diuraikan tentang pengertian Pendidikan Agama Kristen khususnya di bidang remaja dalam keluarga, pelayanan di gereja lokal dan Peranan Pendidikan Agama Kristen dalam mengatasi kenakalan remaja.

Perumusan Istilah Remaja
Masa remaja merupakan masa perkembangan. Perkembangan yang dimaksud bukan arti seakan-akan dalam masa remaja seseorang baru mulai berkembang di dalam kehidupannya. Perkembangan yang dimaksud adalah perkembangan fisik, umur, moral dan pikiran. Seorang remaja yang sedang masuk dalam tahap dewasa, akan mengalami perkembangan atau pertumbuhan-pertumbuhan untuk memungkinkan menjadi seorang dewasa. Masa remaja dapat dipandang sebagai suatu masa di mana individu dalam proses pertumbuhannya mencapai kematangan.
Stanley Heath dalam bukunya yang berjudul psikologi yang sebenarnya, mengutip pernyataan Kotesky yang mengatakan bahwa :
Golongan remaja baru dikenal sejak tahun 1890. Waktu itu beberapa tokoh menyadari adanya unsur ketidakadilan kalau memaksakan anak mengerjakan pekerjaan yang sama berat dengan orang yang lebih tua. Pada waktu yang sama para sesepuh melihat bahwa paksaan bekerja itu menghilangkan hak anak untuk memperoleh pendidikan yang lebih memadai dengan zamannya. Pada periode itu hukum kerja diubah. Boleh disimpulkan bahwa golongan remaja yang kita akui sekarang terbentuk oleh budaya dan hukum.


Masa remaja memang menunjuk pada sebuah rentang waktu dalam perjalanan hidup manusia. Karena itu perlu dipahami dalam konteks keseluruhan rentang waktu tersebut. Psikolog Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Psikologi Perkembangan suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupanmembagi tahapan perkembangan remaja yaitu masa remaja awal yaitu usia tiga belas tahun sampai usiaenam belas tahun dan masa remaja akhir yaitu usia enam belas sampai delapan belas tahun atau usia dewasa secara hukum.[2] Usia ini sudah dianggap akil balig, baik menurut adat maupun agama sehingga masyakat tidak lagi memperlakukan mereka sebagai anak-anak. Pada usia ini, mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa, seperti mulai menemukan identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif maupun moral.[3]
Istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan remaja adalah puberteit, adolescentia, youth, pubertas atau remaja. Istilah vuberty (Inggris) atau puberteit (Belanda) berasal dari bahasa Latinpubertas yang berarti usia kedewasaan (the age manhood). Kata Latin lainnya pubescere yang berarti masa pertumbuhan rambut di daerah tulang pusic (di wilayah kemaluan). Istilah Pubescere dan pubertymenunjuk kepada perkembangan kematangan seksual ditinjau dari aspek biologis. Istilah adolescentia berasal dari kata latin adulescentis yang berarti masa muda. Masa ini menunjukkan masa yang tercepat antara usia dua belas sampai dua puluh dua tahun dan meliputi seluruh perkembangan psikis. Istilah pubertas maupun adolescences di Indonesia dipakai dalam arti umum yang sama yaitu remaja.[4]
Enung Fatimah dalam bukunya Psikologi Perkembangan mengutip pernyataan yang dipakai World Healt Organization dalam mendefinisikan istilah remaja yaitu
Masa pertumbuhan dan perkembangan saat individu berkembang dan saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual. Remaja mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Dalam masa ini terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh pada keadaan yang relatif lebih mandiri.[5]


Ciri-ciri Umum Masa Remaja Dilihat Dari Perkembangan Fisik
Pertumbuhan fisik adalah perubahan yang berlangsung secara fisik dan merupakan gejala utama dalam pertumbuhan remaja. Perubahan ini meliputi perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh. Penyebab perubahan fisik pada masa remaja adalah adanya dua kelenjar yang menjadi aktif bekerja dalam sistem endokrin. Selama masa remaja, seluruh tubuh mengalami perubahan, baik di bagian luar maupun fungsinya. Adapun perubahan fisik yang penting dan terjadi pada masa remaja diantaranya perubahan ukuran tubuh pada anak laki akan mencapai tubuh orang dewasa pada usia sembilan belas sampai dua puluh tahun, sedangkan anak perempuan pada usia delapan belas tahun. Pertumbuhan fisik yang dialami tiap remaja laki-laki dan perempuan berbeda. Bagi remaja laki-laki, permulaan percepatan pertumbuhan berkisar antara sepuluh sampai enam belas tahun dan bagi remaja perempuan, percepatan pertumbuhan dimulai antara umur tujuh sampai dengan umur sebelas tahun. Puncak pertumbuhan fisik perempuan dicapai pada umur dua belas tahun.[6]
Adapun proses kematangan seksual yang dialami remaja perempuan lebih jelas daripada anak laki-laki. Menstruasi pertama dipakai sebagai tanda permulaan pubertas. Sesudah itu masih dibutuhkan satu sampai satu setengah tahun lagi sebelum ia dapat betul-betul matang untuk bereproduksi. Permulaan kematangan seksual pada anak perempuan kira-kira dua tahun lebih cepat daripada anak laki-laki. Sedangkan kriteria permulaan pubertas pada anak laki-laki adalah proses ejakulasi (pelepasan air mani). Pada usia lima belas sampai enam belas tahun, pangkal tenggorokan pada anak laki-laki mulai membesar yang menyebabkan pita suara menjadi lebih panjang. Perubahan dalam pita suara menyebabkan suara menjadi berat.[7]

Ciri-ciri Umum Masa Remaja Dilihat Dari Perkembangan Intelektual
Intelektual merupakan suatu kecakapan seseorang dalam berpikir. Istilah intelek berarti kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti. Kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, perbedaan-perbedaan. Intelek juga berarti kecakapan mental yang besar. Istilah ini disebut intelegensi. Istilah intelektual banyak digunakan dalam bidang psikologi dan pendidikan.
Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Remaja memberi rumusan intelegensi yaitu
kumpulan kemampuan seseorang yang memungkinkannya memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu tersebut dalam hubungannya dengan lingkungan dan masalah-masalah yang timbul.[8]

Intelegensi juga disebut bentuk tingkah laku tertentu yang tampil dalam kelancaran tindakan. Intelegensi disini meliputi pengalaman dan kemampuan bertambahnya pengertian dan tingkah laku dengan pola-pola baru dan mempergunakannya secara efektif.
Intelektual merupakan suatu kemampuan untuk menyesuaikan diri pada tuntutan baru dibantu dengan penggunaan fungsi berpikir. Intelektual merupakan kemampuan yang diperoleh melalui keturunan, kemampuan yang diwarisi dan dimiliki sejak lahir dan tidak terlalu banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam batas tertentu, lingkungan berperan dalam pembentukan kemampuan intelektual. Singgih Gunarsa mengutip pernyataan Wechter yang merumuskan intelektual sebagai keseluruhan kemampuan individu dalam berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.[9]
Intelegensi pada masa remaja sulit diukur karena perkembangan kemampuan tersebut tidak mudah terlihat. Pada masa remaja, kemampuan untuk mengatasi masalah yang majemuk terus bertambah. Saat awal remaja, yaitu pada umur dua belas tahun, remaja pada umur tersebut berada pada masa yang disebut masa operasi formal atau berpikir abstrak. Dalam menyelesaikan suatu masalah, remaja biasanya akan mengawalinya dengan pemikiran yang bersifat teoritis. Ia akan menganalisa masalah dan mengajukan cara-cara penyelesaian masalah yang dapat dilakukan. Oleh karena sifat analisis yang dilakukannya, remaja dapat membuat strategi penyelesaian masalah.[10]
Hal-hal yang mempengaruhi perkembangan intelegensia di antaranya adalah bertambahnya informasi yang disimpan dalam otak sehingga dapat berpikir reflektif, banyaknya pengalaman dan latihan-latihan dalam memecahkan masalah sehingga dapat berpikir rasional. Adanya kebebasan berpikir, sehingga mendorong keberanian dalam memecahkan masalah dan menarik kesimpulan yang baru dan benar.[11] Fungsi intelegensi yaitu proses adaptasi yang bersifat biologis. Bertambahnya usia akan menyebabkan berkembangnya struktur intelegensi baru, sehingga berpengaruh terhadap perubahan berpikir kualitatif. Musa dalam bukunya Kesehatan Mental, menjelaskan bahwa
Pengaruh belajar dalam arti faktor lingkungan terhadap intelegensi cukup besar. Hal ini dibuktikan oleh hasil penelitiannya yang menggambarkan adanya pengaruh belajar terhadap perkembangan intelegensi. Kesimpulan dari penelitian itu ialah semakin tinggi kualitas lingkungan keluarga, maka semakin tinggi nilai intelegensi remaja.[12]


Ciri-ciri Umum Masa Remaja Dilihat Dari Perkembangan Psikologis
Masyarakat biasa memberi ciri khusus bagi remaja oleh sebab karakteristik perkembangan psikologis mereka yang khas. Apalagi remaja identik dengan periode tersendiri yang menentukan seseorang untuk menapaki masa depannya. Masa remaja memang identik dengan kondisi perkembangan psikologis yang unik yang membedakan dengan masa-masa sebelum dan sesudahnya.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian. Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Menurut psikolog Elizabeth B. Hurlock, masa remaja adalah
Masa meningginya emosi manusia, masa perubahan minat, perilaku dan nilai-nilai yang terkait. Masa ini disebut masa ambivalen, di satu sisi ingin bebas, di sisi lain masih takut untuk bertanggungjawab atas hidupnya sendiri. Masa remaja juga adalah masa mencari identitas (masa krisis identitas diri) dan masa yang penuh cita-cita.[13]

Remaja mengalami emosi yang meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi ini juga disebabkan karena remaja berada di bawah tekanan sosial dan selama masa anak-anak kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan itu. Ketidakstabilan emosi pada remaja juga disebabkan oleh penyesuaian diri terhadap pola perilaku baru dan harapan sosial baru. Kondisi emosional yang dihadapi remaja seperti rasa cinta dan kasih sayang yaitu perasaan untuk mencintai dan dicintai oleh orang lain. Para remaja memberontak secara terang-terangan dan menunjukkan sikap bermusuhan umumnya disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan kasih sayang dari orang dewasa.[14]
Rasa gembira muncul apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan menyenangkan. Rasa gembira yang dialami remaja ialah jika mereka dapat diterima sebagai seorang sahabat atau bila cinta mereka diterima oleh orang yang dicintai. Perasaan gembira ini yang mendorong mereka menjadi giat dan bersemangat.[15]
Rasa marah dan permusuhan yang dialami remaja merupakan gejala emosional yang penting dalam perkembangan kepribadian mereka, karena dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri. Banyaknya hambatan yang menyebabkan kehilangan kendali terhadap rasa marah berpengaruh terhadap kehidupan emosional remaja. Rasa marah akan terus berlanjut jika keinginan, harapan, minat dan rencana remaja tidak dapat terpenuhi.[16]
Singgih Gunarsa dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu
Ketidakstabilan emosiAdanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup, adanya sikap menentang dan menantang orang tuaPertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentangan dengan orang tua. Kegelisahan yang dialami remaja karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.Remaja juga senang bereksperimentasi dan bereksplorasi. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan. Remaja juga mengalami Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.[17]


Ciri-ciri Umum Masa Remaja Dilihat Dari Perkembangan Sosial
                  Pada masa remaja terjadi perkembangan dalam kesadaran dan kedewasaan sosial. Hubungannya dengan teman menjadi sangat penting bagi remaja. Pada masa kanak-kanak, mereka hanya membutuhkan kawan bermain, tapi pada usia remaja, mereka mulai mencari persahabatan yang lebih berarti. Teman merupakan hal yang penting bagi remaja dan bagi mereka teman adalah orang-orang yang dapat dipercaya yang mau mendengarkan serta memahami perasaan. Kebanyakan remaja itu menyukai sekolah dengan alasan utama karena di sana banyak teman-teman dekatnya. Sebaliknya mereka tidak menyukai sekolah karena di sana tidak ada teman dekatnya atau karena di sana ada musuhnya.[18]

                  Masa remaja merupakan masa pengembangan dari pengalaman sosial yang di dalamnya terdapat tuntutan sosial. Disiplin merupakan merupakan kenyataan yang harus dihadapi tetapi mereka lebih membutuhkan status dan penerimaan sosial daripada struktur otoritas. Pada masa ini, masalah dengan orang tua mulai timbul karena dorongan alamiah dari ketergantungan menuju kemandirian.
                  Tugas dari orang tua dan pengajar remaja ialah harus menyediakan informasi dan contoh untuk menolong mereka mengembangkan sikap sosial. Pengajar remaja harus memberi kebebasan kepada mereka tetapi yang bertanggung jawab dan harus menerima mereka seadanya, tetapi bukan kelakuan mereka. Pengajar harus menghadirkan Tuhan Yesus sebagai sosok manusia sosial yang ideal dan sempurna.[19]
                  Pengaruh hubungan sosial yang penting dalam kehidupan remaja. Yang pertama adalah kekristenan. Kekristenan merupakan pengaruh hubungan sosial yang paling penting. Kekristenan yang dimaksudkan ialah prinsip-prinsip Alkitab yang umum maupun yang khusus. Kekristenan tersebut merupakan penerapan kekristenan yang membuahkan kesucian yang tetap teguh dan tindakan yang berani dalam hidup pribadi yang menaatinya. Jenis kekristenan seperti ini bersemangat, memberi inspirasi moral kepada remaja. Pengaruh hubungan sosial kedua yang penting ialah keluarga. Pernikahan monogami yang permanen ditandai oleh tanggung jawab, kesetiaan, cinta dan kelembutan yang merupakan nilai peradaban yang berharga. Pengaruh hubungan sosial yang ketiga ialah pendidikan. Pendidikan di sini termasuk ilmu kemanusiaan, ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Pendidikan itu sendiri tidaklah menjamin peradaban seseorang. Tetapi pendidikan yang jujur, obyektif, diresapi dan didasari oleh asumsi Pendidikan Agama Kristen dapat menjadi remaja yang baik dari keluarga, masyarakat dan peradaban.[20]

Masalah Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang  dilakukan  oleh remaja. Perilaku tersebut  akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Banyak  remaja yang sudah mengenal rokok, narkoba, seks bebas, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya.
Yang dimaksud nakal adalah suka berbuat tidak baik, suka mengganggu, dan suka tidak menurut. Sedangkan kenakalan adalah perbuatan nakal, perbuatan tidak baik dan bersifat mengganggu ketenangan orang lain atau tingkah laku yang melanggar norma kehidupan masyarakat.[21] Kenakalanremaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. kenakalan remaja juga merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.[22]
Fatimah dalam bukunya Psikologi Perkembangan mengutip pernyataan Baer & Corado yang menjelaskan bahwa :
Penyebab remaja menjadi perokok diantaranya adalah pengaruh orangtua, biasanya remaja perokok berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, yang orang tuanya tidak memperhatikan mereka. biasanya orang tua sering memberi hukuman fisik kepada anak remajanya. Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok, tembakau dan obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif. Pengaruh yang paling kuat adalah bila orangtua sendiri menjadi figur contoh, yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya kemungkinan besar akan mencontohnya.[23]

Banyak remaja yang merokok karena pengaruh temannya yang juga perokok. Ada dua kemungkinan yang penyebab remaja menjadi seorang rokok, yaitu seorang remaja yang terpengaruh oleh teman-temannya atau teman-temannya terpengaruh oleh remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Faktor kepribadian dari diri si remaja juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan remaja menjadi seorang perokok. Banyak remaja mencoba merokok karena rasa ingin tahu dan ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, ingin membebaskan diri dari kebosanan. Dan iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambing kegagahan dan kemewahan membuat remaja sering terpicu untuk mengikuti perilaku yang ada dalam iklan tersebut.
Contoh lain dari kenakalan remaja adalah perkelahian atau kekerasan pada remaja. Perkelahian atau yang disebut tawuran, sering terjadi di antara pelajar. Ada dampak negatif dari perkelahian pelajar yaitu pertama, pelajar yang terlibat perkelahian bisa mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas umum seperti bus, halte dan rusaknya fasilitas pribadi kaca toko dan kendaraan pribadi. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Terakhir  berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain.
Faktor yang mempengaruhi perkelahian atau kekerasan pada remaja diantaranya faktor internal seperti tidak mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi dan semua rangsangan lingkungan yang makin lama makin beragam. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap remaja. Remaja yang terlibat perkelahian biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang lain pada setiap masalahnya dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Remaja yang sering berkelahi sering mengalami konflik batin, mudah frustasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, rendah diri.[24]
Faktor keluarga yang dipenuhi dengan kekerasan juga berdampak pada anak. Ketika seorang anak bertumbuh menjadi remaja, ia belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari keluarga dan dirinya, sehingga ia menganggap wajar jika melakukan kekerasan pula. Sebaliknya orang tua yang tidak memandirikan anaknya, menyebabkan si anak ketika remaja tidak berani mengembangkan identitas yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya secara total kepada kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.
Sekolah merupakan lembaga yang turut bertanggung jawab atas kekerasan dan perkelahian remaja. Lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, kurangnya fasilitas sekolah dan kadang menggunakan kekerasan dalam memberi hukuman akan menyebabkan siswanya lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama-teman-temannya. Guru juga kadang lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan daripada pengajar dan tokoh yang menjadi teladan bagi siswanya.
Lingkungan di mana remaja tersebut tinggal juga membawa dampak terhadap munculnya kekerasan remaja. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh dan anggota lingkungan yang berperilaku buruk, juga lingkungan kota yang penuh dengan kekerasan. Semua itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya, kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung untuk munculnya perilaku kekerasan.[25]
Contoh terakhir dari kenakalan remaja ialah seks bebas di kalangan remaja. Tindakan seks bebas atau percabulan, diterjemahkan dari bahasa Yunani porneia, atau dalam bahasa Indonesia disebut pornografi. Biasanya diterjemahkan sebagai fornication yaitu hubungan seks sukarela antara dua orang lain jenis yang masing-masing belum menikah. Definisi ini juga berkaitan dengan aktifitas yang mengandung rangsangan yang menyebabkan terjadinya suatu hubungan seks.[26]
Herbert Miles dalam bukunya Sebelum Menikah Pahamilah Dulu Seks menjelaskan secara fisik dan kejiwaan mengapa ia menolak hubungan seks sebelum menikah.
Yang pertama, adanya bahaya kehamilan di luar pernikahan. Kedua, adanya kemungkinan ditulari penyakit kelamin. Ketiga, hubungan seks sebelum menikah mempunyai pengaruh yang merusak terhadap sikap-sikap dan konsep pemuda tentang seks. Keempat, gangguan kata hati nurani dan rasa bersalah yang diakibatkan oleh percobaan hubungan seks sebelum menikah cenderung merusak minat satu dengan yang lain dalam berpacaran. Kelima, hubungan seks sebelum menikah akan meningkatkan ketidakpercayaan, ketakutan dan kecurigaan. Keenam, hubungan seks sebelum menikah didorong oleh sifat-sifat yang tidak stabil, kurang luwes dan seringkali oleh gangguan urat syaraf. Ketujuh, hubungan seks sebelum menikah merusak arti pentingnya bulan madu dan menjadikannya tidak berarti dan kosong.[27]



[1] Stanley Heath, Psikologi Yang Sebenarnya, (Yoyakarta : Andi, 1994), 120.
[2] Elizabeth Hurlock, Psikologi Perkembangan suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, (Jakarta : Erlangga, 1997), 77.
[3] Sarlito Wirawan, Psikologi Remaja, (Jakarta : Rajawali Press, 1989), 8.
[4] Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan (Bandung : Pustaka Setia, 2010), 166.
[5] Ibid, 168.
[6] Fatimah, Psikologi Perkembangan, 47.
[7] Monks, F. J. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya ( Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1984), 288.
[8] Singgih Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1986),44.
[9] Ibid50.
[10] Andi Mampiere, Psikologi remaja (Surabaya : Usaha Nasional, 1982), 33.
[11] Ibid, 80.
[12] Musa, Kesehatan Mental (Bandung : BP FKIP-IKIP Bandung, 1977), 45.
[13] Hurlock, Psikologi Perkembangan suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, 207.
[14] Fatimah, Psikologi Perkembangan,105.
[15] Ibid, 106.
[16] Ibid, 105.
[17] Singgih Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2004), 35.
[18] Daniel Nuhamara, PAK Remaja, (Bandung : Jurnal Info Media, 2008), 46.
[19] Paulus Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen(Yogyakarta: Andi, 2008), 98.
[20] Herbert Miles, Sebelum Menikah Pahamilah Dulu Seks, Pent. Suciati, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1991), 1.
[21] Desy Anwar, “nakal” dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Surabaya : Amelia, 2003), 287.
[22] Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya, (Yogjakarta : Andi, 2006), 21.
[23] Fatimah, Psikologi Perkembangan, 246.
[24] Ibid,  253.
[25] Ibid, 254.
[26] Fred Hartley, Pacaran Dengan Cara Yang Berbeda, Pent. Dabara, (Solo : Danara Bengawan, 1995), 54.
[27] Miles, Sebelum Menikah Pahamilah Dulu Seks, 35.