Senin, 07 Maret 2011

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Agama Kristen

Pengertian dan Tujuan Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama Kristen merupakan perintah dari Tuhan Yesus Kristus yang disebut Amanat Agung dalam Matius 28:18-20. Pendidikan Agama Kristen itu unik, berbeda dengan pendidikan umum karena prosesnya tidak hanya dikerjakan manusia, tetapi juga melibatkan Allah. Keterlibatan-Nya mutlak diperlukan karena Pendidikan Agama Kristen Remaja bukan hanya mendidik secara ilmu pengetahuan, namun  juga membentuk karakter remaja.[1]
Untuk memberikan gambaran tentang Pendidikan Agama Kristen, berikut ini diuraikan beberapa pandangan para tokoh gereja. Robert R. Boehlke dalam bukunya Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek PAK dari Plato sampai Ig. Loyola mengutip pernyataan Martin Luther (1483-1548) menjelaskan pengertian Pendidikan Agama Kristen adalah
Pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur dan tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam firman Yesus Kristus yang memerdekakan. Pendidikan Agama Kristen berfungsi untuk memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa, firman dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat dan negara serta mengambil bagian dengan bertanggung jawab dalam persekutuan Kristen.[2]

Aswan Zain dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar menjelaskan bahwa inti dari proses pengajaran adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran.[3] Inti dari Pendidikan Agama Kristen untuk remaja ialah supaya setiap remaja menyadari kasih Allah sebagaimana dinyatakan dalam Yesus Kristus dan menanggapi kasih tersebut melalui iman dan sarana yang menolong remaja untuk bertumbuh. Bertumbuh yang dimaksud adalah bertumbuh sebagai anak Allah, hidup sesuai dengan kehendak Allah dan bersekutu dengan sesama.
Paulus L. Kristianto dalam bukunya Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen mengutip pernyataan Werner C. Graendorf (1976) yang dijelaskan dalam pernyataan berikut :
Pendidikan Agama Kristen adalah proses pengajaran dan pembelajaran yang berdasarkan Alkitab, berpusat pada Kristus, dan bergantung pada kuasa Roh Kudus, yang membimbing setiap pribadi pada semua tingkat pada pertumbuhan, melalui pengajaran masa kini kearah pengenalan dan pengalaman rencana dan kehendak Allah melalui Kristus dalam setiap aspek kehidupan, dan memperlengkapi mereka bagi pelayanan yang efektif, yang berpusat pada Kristus sang Guru Agung dan perintah yang mendewasakan para murid.[4]

Tujuan dari Pendidikan Agama Kristen ialah untuk mengajak, membantu, menghantar seseorang untuk mengenal kasih Allah yang nyata dalam Yesus Kristus, sehingga dengan pimpinan Roh Kudus ia datang ke dalam persekutuan yang hidup dengan Tuhan. Hal tersebut dinyatakan dalam kasihnya terhadap Allah dan sesama, yang dihayati dalam hidupnya sehari-hari, baik dengan kata-kata maupun perbuatan selaku anggota tubuh Kristus.[5]
Robert R. Boehlke juga mengutip pernyataan John Calvin (1509-1664) yang menjelaskan pengertian dan tujuan dari Pendidikan Agama Kristen:
Pendidikan Agama Kristen adalah pendidikan yang bertujuan mendidik semua putra-putri gereja agar mereka terlibat dalam penelaahan Alkitab secara cerdas sebagaimana dengan bimbingan Roh Kudus. Pendidikan Agama Kristen juga bertujuan mendidik semua putra-putri gereja agar mereka mengambil bagian dalam kebaktian dan memahami keesaan gereja, dan supaya mereka diperlengkapi untuk memilih cara-cara mengejawantahkan pengabdian diri kepada Allah Bapa dan Yesus Kristus dalam pekerjaan sehari-hari serta bertanggung jawab di bawah kedaulatan Allah demi kemuliaan-Nya sebagai lambang ucapan syukur mereka yang dipilih dalam Yesus Kristus.[6]

Pendidikan Agama Kristen dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk orang agar menjadi manusia yang beriman dan taat kepada Tuhan dan berahklak mulia, mencakup etika, budi pekerti dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengenalan, pemahaman dan penanaman nilai-nilai keagamaan serta pengenalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif  kemasyarakatan.


[1] Nur Cahyanti, Diktat Kuliah, Pendidikan Agama Kristen, 2010.
[2] Robert R. Boehlke, Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek PAK dari Plato sampai Ig. Loyola, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1994), 342.
[3] Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Rineka Cipta, 2006), 38.
[4] Kristianto, Prinsip & Praktik Pendidikan Agama Kristen, 4.
[5] Daniel Nuhamara, Pembimbing Pendidikan Agama Kristen, (Bandung : Jurnal Info Media, 2009), 31.
[6] Ibid, 414.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar