Senin, 07 Maret 2011

Studi Kata 2 Timotius 3:16


Studi Kata “Diilhamkan”
Kata “diilhamkan” berasal dari kata “ilham” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya ialah petunjuk Tuhan yang timbul di hati, pikiran (angan-angan) yang timbul dari hati, bisikan hati, sesuatu yang menggerakkan hati untuk mencipta (mengarang syair, lagu, dan sebagainya).[1] Kata Yunani yang dipakai untuk kata “diilhamkan” ialah yeopneustov theopneustos” yang diterjemahkan dengan diilhamkan Allah. Secara harfiah berarti “dihembuskan” Allah. Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam penulis pada saat penulisan kitab suci tersebut. [2] Kata tersebut merupakan kata sifat yang berjenis nominatif feminim tunggal. Akar kata dari kata tersebut ialah θεός theos artinya Allah dan πνέω pneó artinya nafas atau dihembusi.[3] Dalam Perjanjian Baru kata tersebut hanya muncul satu kali atau hanya terdapat dalam 2 Timotius 3:16. Dalam bahasa  Inggris ditulis “inspired by God” sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan “diilhamkan Allah.”
Kata “diilhamkan” mengandung pengertian bahwa Kitab Suci diberikan melalui ilham ilahi. Pengertian dan karya para penulis dipengaruhi secara ilahi. Roh Kudus memenuhi hati orang-orang itu dengan suatu pesan dan memimpin mereka untuk menulis pesan itu bagi dunia. Inilah arti ilham dalam ayat tersebut. Para penulis yang diilhami adalah orang-orang kudus, nabi-nabi, pemberita-pemberita injil dan pemimpin-pemimpin rohani yang hidup dekat dengan Allah dan memiliki komunikasi terus menerus dengan Dia dalam doa dan renungan, dan yang hati dan hidupnya ditahbiskan demikian, dilimpahi kuasa untuk menyampaikan Firman-Nya kepada manusia, kadang dalam satu bentuk tertentu, kadang dalam bentuk lainnya. Mereka adalah saluran-saluran terpilih dari komunikasi ilahi, yang menafsirkan maksud-maksud Allah dengan bahasa yang berwibawa, yang bisa dipahami oleh orang-orang yang dimaksudkan.
Kitab-kitab suci dalam Alkitab ditulis oleh ilham Allah dan Roh Kudus (II Tim. 3:16; Kis. 1:16; Ibr. 3:7; II Ptr. 1:21). Kristus menguatkan tulisan-tulisan itu dengan ajaran-ajaran dari situ dan mengajak orang melakukan ajaran-ajaran tersebut (Mat. .4:4; Mrk. 12:10; Yoh. 7:43; Luk. 24:27). Tulisan-tulisan itu disebut "firman" (Yak. 1:21-23), "firman Allah" (Luk. 11:28), "perkataan Kristus" (Kol. 3:16), "firman kebenaran" (1:18), "kitab suci" (Rm. 1:2), "Kitab Kebenaran" (Dan. 10:21), "gulungan kitab" (Mzm. 40:8), "Kitab Taurat" (Neh. 8:3), "Taurat TUHAN" (Mzm. 1:3), "pedang Roh" (Ef. 6:17), "perkataan-perkataan Allah" (Rm. 3:2, BIS).
Tulisan-tulisan itu berisi janji-janji Injil (Rm. 1:2), menyatakan peraturan-peraturan Allah (Ul. 4:5), ketetapan-ketetapan dan hukum-hukum Allah, mencatat nubuat-nubuat ilahi dan kesaksian tentang Kristus (Rm. 1:2; Ul. 4:5, 14; II Ptr. 1:19, 21; Yoh. 5:39; I Kor. 15:3).
Tulisan-tulisan itu penuh petunjuk yang memadai, tepat dan mampu membuat orang menjadi bijaksana, membawa seseorang pada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (Luk. 16:29, 31; Ams. 6:23; II Tim. 3:15). Janji-janji atau firman itu murni dan benar (Mzm. 12:7; 119:160), sempurna (Mzm. 19:8), sangat berharga (Mzm. 19:11), hidup atau nyata dan kuat (Ibr. 4:12). Firman Tuhan dimaksudkan untuk membawa kelahiran baru (Yak. 1:18), menghidupkan (Mzm. 119:50, 93), memberi terang (Mzm. 119:130), menyegarkan jiwa (Mzm. 19:8), menguduskan (Yoh. 17:17; Ef. 5:26). Firman Tuhan menimbulkan iman (Yoh. 20:31), harapan (Mzm. 119:49; Rm. 15:4), menimbulkan ketaatan, memberi hikmat kepada orang tak berpengalaman (Ul. 17:19, 20), membersihkan hati dan mempertobatkan jiwa (Yoh. 15:3). Tulisan-tulisan itu harus menjadi pedoman atau standar pengajaran (I Ptr. 4:11), harus dipercayai (Yoh. 2:22), merupakan ajakan atau teguran (I Kor. 1:31), harus dibaca dan dikenal (II Tim. 3:15), harus dibacakan kepada orang banyak di hadapan umum (Ul. 17:19), harus diterima dengan lemah lembut sebagai Firman Allah dan ditaruh di dalam hati untuk ditaati (I Tes. 2:13; Yak. 1:21; Ul. 6:6).


Studi Kata “Mengajar”
Kata dasar dari kata “mengajar” adalah kata “ajar.” Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan kata “ajar” adalah petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut).[4] Sedangkan yang dimaksud dengan kata “mengajar” ialah memberi pelajaran, melatih.[5] Kata benda Yunani yang dipakai ialah didaskalia didaskalia.” Kata benda tersebut berjenis akusatif feminim tunggal. Kata ini berasal dari kata διδάσκω yang artinya mengajar atau peringatan.[6] Kata ini muncul dua puluh satu kali dalam Perjanjian Baru yaitu : ajaran 10 kali, ajaran-ajaran 1 kali, ajaranku 1 kali, ajaranmu 1 kali, mengajar 4 kali, menurut ajaran 1 kali, pelajaran 1 kali, pengajaran 1 kali, pengajaranmu 1 kali.
Mengajar yang dimaksud dalam 2 Timotius 3:16 ialah mengajar tentang keselamatan yang dari Kristus. Dalam Perjanjian Baru dijelaskan gambaran tentang Yesus, tentang apa yang telah terjadi dalam hidup-Nya dan hal-hal yang telah diajarkan-Nya. Contoh ayat Alkitab dalam Perjanjian Baru yang menjelaskan bagaimana Kristus mengajar yaitu dalam Matius 4:23 “Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” juga dalam Matius 7:29  “sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.”
Dalam Perjanjian Lama, Allah sendiri berbicara kepada Musa supaya mereka mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ul. 6:6-9).
Umat Israel diperintahkan untuk mengajarkan firman Allah dengan rajin kepada anak-anak mereka. istilah “dengan rajin” dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja yang berarti “mempertajam.” Dalam contoh ini terkandung makna menembus secara dalam. Firman Tuhan tidak boleh diremehkan, melainkan harus menembus dan mempengaruhi seluruh bidang kehidupan manusia. Alkitab merupakan disiplin ilmu yang multigenerasi dan intergenerasi. Hal ini lebih dari sekedar tradisi kuno umat Israel mula-mula.[7]


Studi Kata “Menyatakan Kesalahan”
Kata dasar dari kata “kesalahan” adalah kata “salah.” Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan kata “salah” adalah tidak benar, tidak betul, keliru, khilaf, menyimpang dari yang seharusnya, luput, tidak mengenai sasaran, gagal, cela, cacat, kekeliruan. [8] Sedangkan yang dimaksud dengan kata “kesalahan” ialah perihal salah, kekeliruan, kealpaan.[9] Kata dasar dari kata “menyatakan” adalah kata “nyata.” Arti kata “nyata” ialah terang (kelihatan, kedengaran, dsb), jelas sekali, kentara, benar-benar ada, ada buktinya, terbukti.[10] Kata “menyatakan” berarti menerangkan, menjadikan nyata, menjelaskan, menunjukkan, memperlihatkan, menandakan, mengatakan, mengemukakan (pikiran, isi hati), melahirkan (isi hati, perasaan, dsb.), mempermaklumkan, membuktikan. [11] Jadi yang dimaksud dengan kata “menyatakan kesalahan” ialah menjelaskan dan menunjukkan ketidakbenaran atau memperlihatkan atau membuktikan segala sesuatu yang menyimpang.  Kata Yunani yang dipakai dalam kata “menyatakan kesalahan” ialah elegcovelegchos” kata tersebut berbentuk kata benda berbentuk akusatif maskulin tunggal. Kata tersebut berasal dari kata λέγχω yang berarti teguran atau disiplin.[12] Kata tersebut muncul dua kali dalam Perjanjian Baru yaitu : “bukti” muncul satu kali dan “menyatakan kesalahan”  muncul satu kali.
Kesalahan yang dimaksud yaitu menyatakan dosa dan menolak ajaran sesat. Dosa mempunyai banyak segi. Paulus menggunakan macam-macam istilah untuk menjelaskan hal tersebut. Kata utama untuk dosa adalah hamartia “meleset dari sasaran” yang dipakai 64 kali oleh Paulus. Paulus sering memakai kata itu dalam bentuk tunggalnya. Dosa bukan hanya sekedar kejahatan yang dilakukan, melainkan suatu kekuatan yang membelnggu seseorang. Paulus memandang semua orang sebagai yang “terjual di bawah kuasa dosa (Rom 7:14). Sebagaimana seorang budak dijual kepada seorang majikan, demikianlah semua orang masuk dalam kuasa dosa. Dosa pun bersifat universal baik orang Yahudi maupun orang non Yahudi (Rom. 3:23), dan pada hakikatnya semua orang harus dimurkai.[13]


Studi Kata “Memperbaiki Kelakuan”
Kata dasar dari kata “kelakuan” adalah kata “laku.” Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan yang dimaksud dengan kata “laku” adalah perbuatan, gerak-gerik, tindakan, cara menjalankan atau berbuat.[14] Sedangkan yang dimaksud dengan kata “kelakuan” ialah perbuatan, tingkah laku, perangai, perihal, keadaan.[15] Kata dasar dari kata “memperbaiki” adalah kata “baik.” Arti kata “baik” ialah elok, patut, teratur (apik, rapi, tidak ada celanya, dsb.), menguntungkan, berguna, manjur, tidak jahat (tentang kelakuan, budi pekerti, keturunan, dsb.), jujur, sembuh, pulih, selayaknya, sepatutnya.[16] Kata “memperbaiki” berarti membetulkan (kesalahan, kerusakan, dsb.), menjadikan lebih baik (bagus, rapi, dsb).[17] Jadi yang dimaksud dengan kata “memperbaiki kelakuan” ialah membetulkan tingkah laku dan perbuatan yang salah.
Kata Yunani yang dipakai dalam kata “memperbaiki kelakuan” ialah epanorywsiv atau epanorthosis yang berarti perbaikan dalam bidang kelakuan. Kata ini benda ini berbentuk akusatif  feminim tunggal. Kata tersebut berasal dari kata νορθόω atau anorthoó yang berarti membuat lurus atau memulihkan. Kata anorthoó sendir berasal dari kata depan νά yang berarti kembali, oleh, melalui dan ρθός yang artinya lurus atau tegak.[18] Kata tersebut hanya muncul satu kali dalam Perjanjian Baru, yaitu hanya terdapat dalam ayat ini.
Yang dimaksud dengan kata “memperbaiki kelakuan” ialah memperbaiki apa yang salah pada tingkah laku manusia dengan kebenaran yang terdapat dalam Kitab Suci. Semua teori, teologi dan etika harus diuji dengan Alkitab. Bila ternyata bertentangan dengan pengajaran Alkitab, semua itu harus ditolak. Semua pengajaran harus diuji dan harus sejalan dengan pengajaran Yesus Kristus seperti dinyatakan dalam kitab suci.


Studi Kata “Mendidik Orang Dalam Kebenaran”
Kata “kebenaran” berasal dari kata dasar “benar” di dalam kamus besar bahasa Indonesia artinya ialah sesuai sebagaimana adanya (seharusnya), betul, tidak salah, tidak berat sebelah, adil, dapat dipercaya (cocok dengan keadaan yang sesungguhnya), tidak bohong, sah.[19] Kata kebenaran sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya, sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada, kelurusan hati, kejujuran.[20] Sedangkan arti kata mendidik ialah memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.[21] Mendidik orang dalam kebenaran dapat diartikan dengan memelihara atau memuridkan seseorang dalam hal yang sungguh-sungguh benar adanya. Sumber kebenaran ialah Alkitab.
Kata Yunani yang dipakai dalam kata “mendidik orang dalam kebenaran” ialah paideia en dikaiosunh atau paideia en dikaiosune. Akar kata dari kata paideia adalah παῖς atau pais yang berarti anak. Kata paideia merupakan kata benda akusatif feminim tungal yang berarti disiplin atau didikan.[22] Kata serupa dalam Perjanjian Baru muncul enam kali yaitu : didikan 1 kali, didiklah 1 kali, ganjaran 3 kali dan mendidik 1 kali. Kata dikaiosune merupakan kata benda datif feminim tunggal yang berarti kebenaran atau pembenaran.[23] Kata serupa dalam Perjanjian Baru muncul Sembilan puluh dua kali yaitu : Kebenaran 1 kali, baik 1 kali, dengan adil 2 kali, dibenarkan 2 kali, dibenarkan Allah 1 kali, hidup keagamaanmu 1 kali, keadilan 7 kali, keadilan-Nya 2 kali, benar 59 kali, kebenaran Allah 2 kali, kebenaran-Nya 1 kali, kebenaranmu 1 kali, kebenarannya 1 kali, kehendak Allah 1 kali, kewajiban agamamu 1 kali, membenarkan 1 kali, pembenaran 1 kali, soal kebenaran 1 kali.
Yang dimaksud dengan mendidik orang dalam kebenaran ialah mendidik seseorang supaya ia berjalan di atas jalan yang benar sesuai kehendak Allah. Manfaat dari mempelajari Kitab Suci dapat mendidik orang dalam kebenaran sehingga orang tersebut diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik. mempelajari kitab suci bukanlah untuk diri sendiri, bukan hanya untuk kebaikan hati sendiri. Pertobatan yang membuat orang hanya berpikir untuk dirinya sendiri bahwa ia telah diselamatkan, bukanlah pertobatan yang benar. Orang tersebut harus mempelajari Kitab Suci agar dirinya berguna bagi Allah dan sesama manusia. Tidak seorangpun diselamatkan, kecuali agar dia menjadi suluh untuk menyelamatkan sesamanya.


[1] Depdiknas, ilham” dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Selanjutnya disingkat KBBI), (Jakarta, Balai Pustaka, 1989), 370.
[2] Budiman, Surat-surat Pastoral I & II Timotius dan Titus,108.
[3] Haroul K. Moulton, “yeopneustov” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, Pen. Robert Leland dan Stanley Pouw, (Jogjakarta : Randa’s Family Press, 2009), 370.
[4] Depdiknas, ajar” dalam KBBI, 14.
[5] Depdiknas, mengajar” dalam KBBI, 15.
[6] Moulton, “didaskalia” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 90.
[7] Warren S. Benson dan Mark H. Senter III, Pedoman Lengkap Untuk Pelayanan Kaum Muda 2, Pent. Henry Lantang, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup, 1999), 312.
[8] Depdiknas, salah” dalam KBBI, 865.
[9] Depdiknas, kesalahan” dalam KBBI, 865.
[10] Depdiknas, nyata” dalam KBBI, 696.
[11] Depdiknas, menyatakan” dalam KBBI, 696.
[12] Moulton, “elegcov” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 120.
[13] Leon Morris, Teologi Perjanjian Baru, Pent. Pidyarto O. Carm, (Malang : Gandum Mas, 2006), 74.
[14] Depdiknas, laku” dalam KBBI, 554.
[15] Depdiknas, kelakuan” dalam KBBI, 555.
[16] Depdiknas, baik” dalam KBBI, 78.
[17] Depdiknas, memperbaiki” dalam KBBI, 79.
[18] Moulton, “epanorywsiv” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 139.
[19] Depdiknas, benar” dalam KBBI, 114.
[20] Depdiknas, kebenaran” dalam KBBI, 114.
[21] Depdiknas, mendidik” dalam KBBI, 232.
[22] Moulton, “paideia” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 276.
[23] Moulton, “dikaiosunh” dalam Lesikon Analitis Bahasa Yunani Yang Direvisi, 94.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar